by

UKM Teater STAI Cirebon Tampil di Gedung Kesenian Nyimas Rarasantang Bima Kota Cirebon

CIREBON, staic.ac.id – Sabtu (07/03/2020) siang, UKM Seni Teater Geni tampil di gedung kesenian Nyimas Rarasantang Bima Kota Cirebon. Lakon yang diangkat bertajuk “Tak Seperti Sepasang Merpati” yang merupakan produk perdana teater Geni. Naskah tersebut merupakan hasil karya Azis Al Awaliyah selaku penggagas seni teater Geni.

“Kisah dalam lakon itu diambil dari pengalaman hidup seseorang. Karena tidak dipungkiri, hal seperti itu ada dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Azis.

Teater Geni merupakan UKM yang tergolong baru di kampus STAI Cirebon. Grup teater ini, awalnya diberi nama Teater Bonggol. Kata bonggol berasal dari bahasa Jawa yang artinya tunas pohon. Diberi nama bonggol, diharapkan teater ini akan terus tumbuh dan berkembang.

Seiring perjalanan waktu, nama teater Bonggol diubah menjadi Teater Geni, dan tepat pada Jum’at (01/11/2019) grup Teater Geni disahkan oleh ketua STAI Cirebon sebagai UKM resmi di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon (STAIC).

“Kata Geni berasal dari bahasa Jawa yang artinya api. Filosofi yang bisa diambil dari api, untuk meraih kesuksesan dalam hidup, ia harus terus menyala. Api yang menyala merupakan lambang dari semangat yang terus membara dan tetap ada. Nyala adalah bukti eksistensi,” terang Azis.

Filosofi ini, lanjut Azis, mengajarkan kita banyak hal bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu hal yang instan dan mudah. Banyak rintangan yang membentang dan gangguan yang datang. Dengan semangat yang membara bagai api, kita tidak akan mudah menyerah dalam berjuang. Begitu pun dengan teater Geni, semangatnya tidak akan luntur untuk terus berkarya dan berseni. Berbicara teater, berarti berbicara seni. Meminjam istilah Aristoteles, seni adalah meniru alam. Setiap manusia memiliki sisi kreatifitasnya masing-masing, hasil keterampilan dan ungkapan rasa estetika atas potensi yang dimilikinya. Senada dengan itu, Ki Hajar Dewantara menyatakan, seni adalah hasil keindahan yang dapat menggerakkan perasaan indah orang yang melihatnya.

Selain Azis, di teater Geni terdapat sejumlah anggota yang ikut mendirikan UKM teter Geni dan terlibat langsung dalam pementasan lakon teater tersebut. Mereka yaitu Adhi Wijaya, Arip Paja Parhani, Tasya Ul-Haq, Nurahma Fanny, Sepna Lisarianty, Ovi Saqhiyatul Haq, Tuti Alawiah, Ade Kurniawan, Nur Mu’arif, Syahrul Romadhan, Elina Puspa Suci, Naif dan Muhammad Ghafar Rasyad.

Menurut penuturan mereka, persiapan pra pementasan dilakukan selama kurang-lebih 4 bulan, mulai dari latihan, peminjaman tempat, kostum, make-up hingga lay-out dan editing.

“Menjelang hari-H, kami “dikarantina” di lokasi selama 3 malam, untuk gladi kotor dan gladi bersih, sampai tiba puncak pementasan,” terang mereka.

Pementasan perdana teater Geni dihadiri oleh sekitar 200 penonton, terbukti dari tiket yang terjual. Penonton tidak hanya dari kalangan mahasiswa kampus STAI Cirebon. Banyak dari kalangan pelajar SMA/ sederajat, mahasiswa kampus sekitar Cirebon dan pegiat seni teater Cirebon pun ikut antusias hadir menyaksikan pagelaran seni teater kali ini.

Sementara dari kalangan internal kampus, selain mahasiswa, tampak sejumlah dosen, dan pimpinan kampus swasta Islam tertua di Cirebon itu, ikut meramaikan gedung kesenian Nyimas Rarasantang. Bahkan, pimpinan kampus, termasuk ketua STAI Cirebon pun turut hadir menonton.

Ditemui oleh staic.ac.id usai pementasan sore itu, Ahmad Dahlan, ketua STAI Cirebon mengungkapkan bahwa pasca pementasan lakon perdana ini, sebagai wujud eksistensi Teater Geni, akan dilakukan sosialisasi tentang urgensi teater kepada civitas akademika, terutama mahasiswa STAI Cirebon bahwa pada dasarnya, UKM teater memiliki berbagai pintu bagi pengembangan minat dan bakat terutama bidang seni.

“Dalam teater, sangat mungkin bagi mahasiswa, bahkan yang tidak berminat sebagai pemeran sekalipun, dapat mengembangkan bakat musiknya, baik musik tradisional maupun musik kontemporer, karena musik bagian tak terpisahkan bagi suatu pementasan teater. Bahkan bagi yang berminat dan atau yang berbakat dalam seni lukis, dekorasi, audio visual, tata ruang serta sound system pun dapat tercover di Teater Geni, karena lagi-lagi suatu pementasan membutuhkan semua itu,” terang Ahmad Dahlan.

“Yang tak terpisahkan pula dalam teater adalah naskah, skenario, sutradara dan event organizer. Mahasiswa dapat memilih dan mengambil sebagian dari peran-peran ini atau semuanya,” lanjutnya.

Sementara itu, menurut penuturan para pendiri teater, Azis dkk, bahwa teater Geni menurut masukkan Ketua STAI cirebon, harus bisa memastikan distingsinya.

“Pak Ketua memberi masukan agar teater Geni memilih sebagai teater yang spesifik menampilkan kisah-kisah, sejarah tempat-tempat Islamisasi di Cirebon atau babad kampung-kampung di Cirebon, seperti sejarah Trusmi dan Ki Gedenya, dan lain sebagainya,” lanjutnya.

“Semoga, kami bisa bisa istikamah dan terus menghasilkan karya seni teater secara kontinyu, tidak hanya sebagai wujud eksistensi, ekspresi dan kreatifitas selaku pegiat seni, namun juga sebagai bentuk andil dan turut serta dalam merawat kearifan budaya lokal, mengkontekstualisasikannya dalam era kekinian dan mensosialisasikannya di kalangan milenial.” Harapnya menutup perbincangan.

****

 

Penasaran dengan isi ceritanya? Berikut sekilas cuplikan “Tak Seperti Sepasang Merpati”

Lakon “Tak seperti Sepasang Merpati” mengisahkan kisah cinta seorang anak manusia, pemuda desa sederhana yang putus sekolah, anak dari seorang penjual serabi. Pemuda bernama Aji itu berani mencintai Nengsih, gadis ayu yang berpendidikan tinggi. Mereka menjalin asmara sejak masih duduk di bangku kuliah semester lima.

Namun, kisah cintanya tidak seperti yang diharapkan mereka. Orang tua Nengsih menolak lamaran Aji. Bahkan, orang tua Nengsih mempermalukan Aji di depan ibunya, karena telah berani meminang Nengsih yang saat itu sudah dijodohkan dengan lelaki pengusaha muda, yang berpendidikan tinggi dan sudah mapan.

Nengsih  tidak tahu soal perjodohan itu. Bahkan Nengsih menolak lamaran dari laki-laki yang tidak dicintainya itu. Namun orang tuanya bersikeras menerima lamaran dari pemuda mapan yang bernama Abdul Rozak itu. Karena bagi orang tuanya, Nengsih berhak bahagia dan menikah dengan lelaki yang mapan dan minimal sepadan pendidikannya. Baginya, pernikahan tidak cukup hanya bermodalkan cinta. Banyak pernikahan terjadi karena cinta namun setelah berumah tangga dan memiliki anak, ditinggal begitu saja, karena faktor ekonomi.

Akhirnya Nengsih menerima perjodohan dan menikah dengan Abdul Rozak meskipun tidak mencintai dan tidak menginginkannya. Namun setelah pernikahan terjadi, Nengsih tidak bahagia dan tidak mau disentuh oleh Abdul Rozak, suaminya, karena masih memiliki rasa pada Aji, lelaki yang dicintainya.

Aji, lelaki yang dicintainya itu meminta Nengsih melupakan cintanya, karena Aji tidak ingin Nengsih menjadi istri pembangkang. Aji memintanya mulai menerima takdir Nengsih bersama orang lain, bukan dengan dirinya, tidak seperti sepasang merpati yang setia meski terbang tinggi, ia tahu ke mana ia harus kembali.

Kisah cinta semacam ini sering terjadi dan kita jumpai di dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana seseorang hanya memandang materi, harta, tahta, pendidikan bahkan jabatan, tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Padahal, roda kehidupan akan terus berputar mengikuti langkah kita. Si miskin akan menjadi kaya, jabatan tinggi akan lengser dan semua akan ada pada posisinya masing-masing.

***

Reporter: Tuti Alawiah

Editor: Masyhari

News Feed