by

Rumah Perspektif Pendidikan

Rumah Perspektif Pendidikan
Oleh: Masyhari

(Ketua Prodi PAI STAI Cirebon)

staic.ac.id
Mengutip kamus Indonesia-Inggris karya John M. Echols dan Hassan Shadily (2003: 468), kata rumah dimaknai dengan “house”. House merujuk pada bangunan rumah secara fisik (building). Rumah gadang diterjemahkan menjadi ‘traditional Minangkabau house‘. Rumah joglo diterjemahkan menjadi ‘traditional Javanese house’. Rumah modern diterjemahkan dengan ‘modern house’. Ketika lebaran hari raya fithri, sejumlah pejabat mengadakan open house, dan seterusnya.

Rumah juga diterjemahkan dengan ‘home’. Kata ini merujuk pada rumah secara substansial, isi dari bangunannya (ruhi-ma’nawi), yaitu keluarga. Rumahku surgaku diterjemahkan dengan ‘home sweet home’. Sekolah rumah diterjemahkan dengan ‘home schooling (education)’.

rumah dan pendidikan
rumah dan pendidikan

Dalam bahasa Jawa tradisional, rumah sederhana kerap disebut dengan “gubuk”. Dalam istilah bahasa Sunda dikenal dengan “saung”, dan di Enrekang-Sulsel rumah sejenis disebut dengan rumah kayu (rumah panggung). Secara fisik, ‘bangunan’ rumah semacam ini tidak terkesan megah, kokoh, dan mewah. Namun, suasana nyaman dan damai amat terasa di sana, terlebih bila di sekitarnya ditumbuhi rerumputan dan pepohonan rindang, dengan suara gemericik aliran sungai. Bertambah damai lah suasananya.

Pada zaman modern ini, manusia berlomba-lomba mengumpulkan sebanyak-banyak harta untuk membangun istana megah nan indah. Tidak heran bila saat ini parameter kesuksesan dilihat pada hal-hal yang fisik dan material, kekayaan. Beginilah realitanya. Segalanya diukur secara materialistik.

Tidak sekali dua kali, dalam obrolan di kereta api, dalam perjalanan dari dan ke kampung halaman, saya kerap ditanya oleh penumpang yang duduk di samping atau depan saya, “Kuliah di jurusan apa? Sesudah lulus kerja di mana?”

Kalau sudah mendapatkan pertanyaan semacam itu, saya suka bengong sendiri, bingung mau jawab apa. Sebab, sejak keluar SMA, cita-cita saya menjadi guru. Terlebih bila dilanjut dengan komentar, “Guru gajinya berapa?” Apalagi ternyata saya tidak ambil fakultas tarbiyah atau keguruan, tapi Syariah atau hukum Islam. Pilihan yang tepat hanya sebagai honorer, dengan gaji sebulan untuk makan sepekan. Ini yang kerap dirasakan oleh sebagian besar guru saat ini. Mereka pun akhirnya mengejar sertifikasi. Bukan untuk peningkatan kualitas diri, tapi agar mendapatkan tunjangan dan gaji yang lebih tinggi.

Jauh, belasan abad silam, di dalam Alquran telah disinggung soal ini. “Alhakumuttakatsur, hatta zurtum al-maqabir.” (At Takatsur: 1-2). Yang artinya kira-kira, “Kalian telah terlena oleh persaingan untuk mengumpulkan harta kekayaan, (dan tidaklah pernah berhenti) hingga kalian masuk liang kubur.” Bahkan, dalam sebuah hadis di kitab “Al-Arbain An-Nawawiyah” disebutkan bahwa di antara tanda hari kiamat, yaitu banyak manusia yang berlomba-lomba meninggikan gedung.

Bilamana Nabi Ya’qub ‘alaihissalam sebelum ajal menjemputnya mengkhawatirkan keimanan putra-putrinya, “Apa yang kalian sembah sepeningggalku?”, banyak dari kita yang hanya mengkhawatirkan akan makan apa anak kita sepeninggal kita. Sehingga, kita masukkan anak-anak kita ke dalam sekolah dengan selembar ijazah sebagai tujuan, dan kelak setelah lulus bisa bekerja atau membangun kerajaan bisnisnya, tak peduli mental dan spiritual mereka.

Kondisi semacam ini kini melanda dunia pendidikan kita. Salah satu indikasinya, di sejumlah kampus Islam (PTIN/PTIS), fakultas agama Islam dan yang notabene berorientasi akhirat dan ilmiah, semisal ushuluddin, sastra, sejarah, bahasa Arab, filsafat, tafsir, hadits, hukum perdata, dan sebagainya, mengalami defisit mahasiswa. Pihak kampus pun terpaksa melakukan peleburan beberapa fakultas menjadi satu. Sebaliknya, beberapa jurusan semisal pendidikan bahasa Inggris, pendidikan ekonomi, ekonomi dan perbankan Islam, manajemen keuangan Islam, kedokteran, farmasi, broadcasting, informatika, komputer, dan sejenisnya dibanjiri oleh pendaftar. Jurusan-jurusan tersebut dipandang lebih menjanjikan bagi masa depan secara materiil. Selepas lulus jelas lapangan pekerjaannya, kata mereka. “Sebab kita butuh makan.” Lanjut mereka.

Ini berbeda dengan yang terjadi pada guru-guru ngaji, dari dulu hingga saat ini. Dalam banyak kesempatan, para pembina tidak bosan-bosan mengingatkan guru-guru ngaji tentang pentingnya keikhlasan dan kesabaran. Guru Alqur’an itu keluarga Allah. Sementara Allah maha kaya. Tengadahkan tangan kepada-Nya. Seakan-akan ‘haram’ hukumnya meminta bantuan dari pemerintah. Tak ada cerita, guru ngaji mati karena tidak makan. Yang ada, banyak kisah guru ngaji berangkat umroh dan naik haji. Di dalam rumah, guru ngaji senantiasa salat sunnah dan menghiasi rumahnya dengan lantunan tilawah Alquran. Siang hari rumahnya dipenuhi santri-santri mengaji. Dan di sepanjang malam lantunan Kalam Ilahi tiada hentinya membumbung ke langit. Guru ngaji tidak memikirkan besok makan apa. Guru ngaji memikirkan bagaimana agar santrinya bisa senang mengaji dan lancar membacanya, saja.

Banyak orang sibuk memikirkan bangunan rumah secara fisik. Mereka membuat pondasi dengan besi dan cor yang kuat, serta dinding dari semen dan bata yang tahan gempa. Namun banyak yang lupa membangun pondasi mental-spiritual anak-anaknya, generasi masa depan keluarganya, dan juga bangsanya. Untuk pendidikan anaknya, ia cukup menyerahkannya kepada sekolah. Seakan ia percaya, bahwa sekolah telah mengajari anaknya segala hal.

Home Schooling

Beberapa tahun terakhir ini kita dihebohkan dengan kosakata baru dalam dunia pendidikan kita. Makhluk yang dimaksud tiada lain adalah home-schooling. Kata home schooling (HS) berarti “sekolah rumah”. Menurut sejumlah pakar parenting, lebih tepat jika disebut dengan istilah home education, pendidikan rumah. HS ada sebagai model pendidikan alternatif. Sejatinya, model HS sudah ada sejak dahulu kala, setua usia kehidupan manusia itu sendiri. Lebih dekat dengan zaman kita di dunia Islam, para ulama klasik dididik dengan model HS. Bahkan, tradisi pendidikan di Nusantara, yaitu pesantren juga berbasis HS, dimana santri selain bertatap muka secara formal di ruang madrasah/ masjid, mereka juga dididik dan berada di bawah pembinaan kyai (guru) secara intesif di dalam asrama.

Mengapa ‘Home’, Bukan ‘House’?

Di sinilah yang hendak ditekankan, bahwa pendidikan rumah lebih fokus pada kondisi dan iklim rumah yang menyejukkan dan kondusif bagi anak-anak. Pendidikan ini melibatkan seluruh anggota keluarga. Segalanya diatur dan difasilitasi oleh orang dalam keluarga, meskipun terkadang melibatkan orang luar, bila diperlukan. Orientasinya jelas bukan ijazah, tapi bagaimana anak mendapatkan pendidikan secara lebih bersahabat, bermain sambil belajar.

Dalam konsep pendidikan ala HS, rumah adalah ruang kelas sekolahnya, tidak terbatas pada sekat fisik bangunan (house), namun ruang yang teramat luas, alam semesta dan segala isinya, laboratorium yang hidup. Sementara orang tua, adalah guru utamanya, bahkan bisa sekaligus menjadi sahabatnya. Selain itu, guru dan teman bisa berupa sanak famili, masyarakat sosial, tetangganya. Bahkan gurunya adalah Allah SWT.

Di HS, anak belajar tentang kehidupan yang harmonis. Jadwal HS tidak dibatasi oleh waktu. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, anak-anak masih dan terus ‘belajar’. Setiap aktifitasnya sehari-hari dilakukan dengan tata adab yang dicontohkan dan dibimbing langsung oleh orang tuanya. Hal-hal lain yang berhubungan dengan keahlian dan kreatifitas, diserahkan sepenuhnya kepada minat anak. Orang tua cukup menganalisa kecenderungan, mengawasi dan membimbingnya. Sebab, anak-anak memiliki kecenderungan dan kreatifitas tanpa batas, kecuali bila kita sendiri yang membatasinya. Sehingga, kurikulumnya bisa kita pilih sesuai dengan kebutuhan rumah, kita dan anak-anak, bebas bertanggung jawab. Kalaulah misalnya kita butuh ijazah, kini pemerintah telah memberikan fasilitas ujian penyetaraannya.

Biaya pendidikan dalam HS tidak dipatok nominal harganya, bisa jadi nol rupiah. Biaya bisa saja meningkat sesuai dengan sarana dan peralatan belajar yang kita butuhkan. Demikian ini bukan berarti, para orang tua yang telah menyekolahkan anaknya di luar rumah tidak bisa menjalankan HS. Pendidikan di luar rumah hanya berbatas waktu, semestinya (kecuali bila kita sengaja menyiksa anak kita dengan menambahkan les dan bimbel di luar jam sekolah hingga sore hari. Sehingga, intensitas interaksi dengan kita sebagai orang tua pun berkurang, dan anak kita stres di usia sangat muda). Di luar jam sekolah, anak-anak bisa kita HS-kan, dengan membimbing dan memantau perkembangan mereka di rumah. Sekolah sejatinya hanya sebatas tempat ‘penitipan’ pendidikan. Guru hanya sebatas wakil, pengganti sementara peran orang tua di  sekolah. Sementara tanggung jawab pendidikan anak tetaplah di pundak orang tua. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

News Feed