Staic.ac.id – Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon (STAIC) sudah sangat layak berubah bentuk menjadi institut. Demikian disampaikan Prof. Dr. Mahmud, M.Si, koordinator Koordinatorat Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (KOPERTAIS) Wilayah II Jawa Barat dan Banten di sela sambutannya dalam acara wisuda sarjana ke-26 dan program peningkatan mutu guru DTA ke-5 STAI Cirebon yang digelar Kamis pagi (27/12/2018) di auditorium Islamic Centre Kabupaten Cirebon.

“Kita dorong agar STAIC berubah menjadi institut sesegera mungkin. Bila melihat SDM dan infrastruktur yang dimiliki, STAIC sudah sangat memenuhi syarat untuk berubah menjadi institut,” terangnya.

Selain itu, Mahmud mengatakan bahwa STAIC merupakan sekolah tinggi agama Islam terbaik se-Jawa Barat & Banten.

“Para Bapak-Ibu patut berbangga menyekolahkan putra-putrinya di STAIC. Karena STAIC merupakan sekolah tinggi terbaik se-Jawa Barat & Banten,” terang pria yang kini menjabat rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung kepada para orang tua wisudawan.

Untuk perbaikan ke depan, Mahmud berpesan supaya STAIC terus berinovasi dan melakukan perubahan.

“Bila tidak berubah, STAIC akan tertinggal, ditinggalkan oleh yang lain, ditinggalkan oleh zaman. Ibarat kecebong. Bila tidak bermetamorfosis, ia akan mati bila airnya habis,” tegasnya.

Namun, Mahmud mengingatkan bahwa perubahan tidak diraih dengan mudah, tapi harus dengan susah-payah.

“Akan tetapi, perubahan itu harus ditempuh dengan susah payah dan penuh kesungguhan, sebagaimana kata Imam Asy-Syafi’i, “Biqadril kaddi tuktasabul ma’ali, waman thalabal ula sahirallayali (Keluhuran diraih dengan kerja keras. Siapa yang ingin meraih puncak, dia akan begadang).”

Sementara itu, kepada para wisudawan Mahmud berpesan agar mereka tidak perlu risau dan takut menjadi pengangguran.

“Jangan pernah takut nganggur. Tidak mungkin sarjana agama menjadi pengangguran, asalkan mau kreatif dan berperan aktif di tengah masyarakat. Dokter gigi yang wilayah kerjanya sesempit itu saja bisa laku dan sukses. Apalagi sarjana agama!” tegasnya.

Untuk itu, menurut Mahmud, para wisudawan bisa mengambil inspirasi dari QS Quraisy yang sarat akan pelajaran dan hikmah.

“Di dalam Surah Quraisy terdapat petunjuk bagi para wisudawan untuk meraih kesuksesan. Yang pertama, ilaf, yaitu faktor kebiasaan. Orang-orang sukses dan hebat memiliki kebiasaan yang tidak biasa-biasa saja. Karenanya, kita harus banyak membaca biografi orang-orang hebat. Kita cari tahu apa kebiasaan mereka sehingga bisa menjadi orang sukses, misalnya Pak BJ Habibi,” ungkapnya.

Bahkan menurut pengakuannya, Mahmud tidak melewatkan buku apa pun tentang Prof. Habibi, kecuali dibacanya. Bahkan, film tentang Pak Habibi pun ditontonnya.

“Kedua, rihlah”, yaitu mobilitas. Untuk menjadi orang yang sukses, jangan diam. Kita harus bergerak. Kita banyak belajar dan mencari pengalaman. Berikutnya,  dari firman-Nya syitashoif” kita bisa ambil hikmah bahwa untuk memperoleh kesuksesan kita harus pandai membaca situasi dan kondisi, sebagaimana suku Quraisy ketika melakukan perjalanan dagang. Pada musim dingin mereka ke Yaman, karena di sana beriklim hangat. Sementara pada musim panas mereka ke Syam, karena di sana beriklim sedang,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Mahmud menegaskan, bahwa untuk mencapai kesuksesan tidak hanya cukup dengan usaha yang berifat lahiriah semata. Tapi harus ditopang dengan ibadah yang tekun, faktor ritual-spiritual.

“Falya’budu Rabba hadzal bait. Maka beribadalah kepada Tuhan yang menguasai rumah ini. Artinya, usaha harus diikuti dengan doa dan tawakkal, berserah diri kepada Allah Yang Maha kuasa. Orang tua saya pernah berpesan, bahwa untuk menjadi orang sukses, kita ikuti filosofi rumput. Tetap tumbuh di mana pun. Tidak pernah menyerah dengan keadaan.”

Mahmud mengingatkan para wisudawan agar senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena takwa merupakan solusi segala problematika kehidupan.

“Suatu ketika, seorang sahabat berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Aku ingin menjadi orang yang terpandai.” Maka Rasulullah bersabda, “Bertakwalah, maka kamu akan menjadi orang terpandai.” Hal ini sebagaimana firman Allah swt, “Bertakwalah kepada Allah, maka Dia akan mengajarimu.” Dalam ayat lainnya, Allah berfirman, “Siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya solusi, dan memberikan baginya rizki dari jalan yang tidak terduga.” Tutupnya.

Pada wisuda kali ini, STAIC mengukuhkan sebanyak 222 wisudawan, yang terdiri dari Prodi Pendidikan Agama Islam sebanyak 168 Pendidikan dan 19 Sarjana Hukum dari Prodi Al-Ahwal Al-Syakhshiyyah. Selebihnya, sebanyak 35 wisudawan dari program beasiswa satu tahun peningkatan mutu guru DTA.[]

News Feed