Oleh: Masyhari, Lc., M.H.I (masyharie@gmail.com)*

* Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon

 

Pendahuluan

Sudah tidak diragukan lagi perbedaan merupakan suatu keniscayaan dalam kehidupan umat manusia (sunnatullah). Pergantian antara siang dan malam merupakan bagian dari bukti yang sangat nyata akan keniscayaan itu. Adanya siang dan malam, perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, perbedaan jenis kelamin, perbedan kabilah, suku dan lain sebagainya adalah suatu fenomena yang tidak saja menarik, namun harus menjadi pelajaran dan renungan bagi umat manusia, khususnya umat muslim. Melihat umat Islam adalah umat pilihan sudah selayaknya memiliki sikap moderat (wasath), bukan ekstrim kanan (ifrath) maupun ekstrim kiri (tafrith).

Perbedaan merupakan unsur terpenting dari keindahan. Dari kombinasi beberapa bentuk yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang menarik dan eksotis. Suatu objek pandang akan berbeda tergantung siapa dan bagaimana cara memandangnya (relatif), karena setiap manusia tidak hanya memiliki bentuk kepala yang berbeda, akan tetapi isi kepala, pendapat dan pemikiran yang berbeda pula. Hal itu terkait input yang diterimanya dan pengalaman hidupnya.

Segala sesuatu diciptakan oleh Allah swt dengan hikmah dan manfaat, baik diketahui manusia ataupun tidak hikmah itu. Begitu juga dengan perbedaan, ia diadakan oleh Allah dengan hikmah yang begitu banyak. Padahal kalau Allah berkehendak, Dia Maha kuasa untuk menjadikan manusia satu dengan segala-galanya sama, namun tidak. Di antara hikmah dari perbedaan yaitu sebagai tanda ke-Mahakuasaan serta ke-Mahaagungan-Nya, sebagai ujian dari-Nya siapa yang paling berkualitas amal perbuatannya, adanya proses interaksi dan saling mengenal di antara umat manusia, sehingga terciptalah rasa cinta dan keharmonisan, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan bilasaja Allah menciptakan manusia dengan model yang sama dengan pemikiran yang sama.

Bila manusia mau berpikir, mereka akan mengerti bahwa ikhtilaf (perbedaan) merupakan faktor pendorong (motivator) bagi mereka untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, juga merupakan wahana untuk saling mengenal dan memahami, sehingga semakin memperkuat ikatan persaudaraan antara umat Islam (ukhuwah Islamiyyah) dan persaudaraan antar umat manusia (ukhuwah basyariyyah).

 

Studi Ikhtilaf

Perlu ditegaskan di sini bahwa perbedaan (ikhtilaf) bukanlah perpecahan (iftiraq), keduanya adalah hal yang berbeda. Ikhtilaf adalah nikmat, sedangkan perpecahan adalah niqmah (bencana). Tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang menegaskan hal ini, di antaranya yaitu (a) surat Al-Ruum [30]: 10, (b) surat Al-Baqarah [2]: 164, (c) surat Yunus [10]: 6,  (d) surat Ali Imran [3]: 160, dan ayat-ayat lainnya yang menjelaskan dengan gamblang bahwa perbedaan adalah bagian dari tanda kekuasaan (ayat kauniyyah) Allah swt.

Dalam konteks Hukum Islam, perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan mazhab dan pandangan dalam fikih yang bersifat ijtihadiyyah, yang diwujudkan dalam fikih perbeandingan mazhab. Yang dimaksud perbandingan di sini adalah usaha untuk mengetengahkan dan mengkonfrontasikan antar berbagai pandangan para ulama terkait masalah yang diperselisihkan, landasan dan alasan metodologis dan yuridis yang mereka pergunakan dalam penggalian hukum (istinbat al-ahkam).

Studi ini diharapkan akan memperkenalkan perbedaan antar para ulama, dalil-dalil yang mereka pergunakan, serta sebab-sebab yang menjadikan mereka berbeda pendapat, dan bukan menjadi ajang merendahkan pendapat lawan atau mencari titik kelemahan ulama. Akan tetapi sebagai media untuk mencari pendapat yang paling mendekati kebenaran, karena sebagaimana sabda Nabi saw bahwa setiap mujtahid itu benar, bila menghasilkan produk yang salah akan mendapat satu pahala atas usaha dan jerih payahnya. Perbandingan ini juga bertujuan untuk menjauhkan umat Islam dari sikap ‘ashabiyyah (fanatisme) terhadap suatu kelompok, pandangan, maupun tokoh manapun. Fanatisme seringkali disebabkan oleh kebodohan dan  ketidaktahuan terhadap informasi yang sebenarnya terkait pandangan mazhab dan landasan dari pendapat tersebut. Sungguh indah apa yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Syafi’i, “Pendapatku benar, namun berpotensi salah. Sebaliknya, pendapat selainku salah, namun berpotensi benar.” Maka, perbedaan dan perbandingan dapat membangkitkan semangat persaudaraan dan toleransi antar umat Islam dan juga umat manusia.

Dalam tulisan ini akan diuraikan sekilas tentang pengertian ikhtilaf, macam-macam ikhtilaf, pandangan ulama terkait ikhtilaf, dan argumentasi masing-masing dari mereka, serta mengupayakan semaksimal mungkin untuk mencari titik temu, dan jalan tengah antar pandangan yang ada (kompromi) bila memungkinkan. Bila tidak, maka tiada ada jalan lain kecuali dengan jalan melakukan tarjih.

 

Definisi Ikhtilaf

Secara bahasa, ikhtilaf mengikuti wazan “ifti’al” yang tiada lain adalah bentuk masdar dari “ikhtalafa-yakhtalifu”, merupakan antonim dari “ittifaq (bersepakat). Seseorang dikatakan ikhtilaf dengan orang lain bila memiliki pandangan yang berbeda dengannya. Sesuatu dikatakan berbeda, bila tidak sesuai atau tidak sama. Antar manusia dikatakan ikhtilaf bilamana salah seorang dari mereka membela pendapat yang diikuti dan dipegangnya, seolah-olah ia pemilik pendapat tersebut (Mahir Yasin Al-Fahl, 5).

Selain kata ikhtilaf, dikenal istilah lainnya yaitu khilaf. Meskipun keduanya berasal dari akar kata yang sama, yaitu “kha-la-fa”, akan tetapi keduanya memiliki sisi perbedaan. Dalam “Lisan AlArab” disebutkan bahwa kata “khilaf” berarti “mudhadah” (berlawanan). Namun terkadang, antara kedua seringkali dipakai sebagai sinonim. Namun jika diperhatikan secara seksama dalam Al-Qur’an, akan jelas bagi kita bahwa kata “khilaf” atau “Khaalafa” diidentikkan dengan sebuah pelanggaran yang dilakukan secara sengaja. Sebagaimana firman Allah swt:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”(QS. Al-Nuur [24]: 63).

Juga firman Allah swt,

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ

Artinya, “Orang-orang yang tidak turut serta berperang itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah…”(QS. Al-Taubah [9]: 81).

Yang dimaksud di belakang yaitu berbeda sikap dengan Rasulullah saw.

Hal ini berbeda dengan kata “ikhtilaf”, dimana kebanyakan digunakan untuk mengungkapkan perbedaan yang berlainan dalam bentuk, warna dan lain sebagainya.

إِنَّ فِي اخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَّقُونَ

Artinya, “Sesungguhnya pada perbedaan (pergantian) malam dan siang itu, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.” (QS. Yunus [10]: 6).

Ada pula perbedaan yang terjadi akibat perbedaan persepsi dan pemahaman (Abd Al-Wahhab Abd Al-Salam Thawilah, 2000: 17).

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya, “Dan Kami tidak menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) ini kepadamu, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Al-Nahl [16]: 64).

Dalam ranah fikih, term yang digunakan para ulama adalah pengertian ikhtilaf secara bahasa sebagaimana disebutkan di atas (Mahir Yasin Fahl: 5).

 

Macam-Macam Ikhtilaf

Abd Al-Wahhab Thawilah (2000: 293) menyebutkan bahwa ikhtilaf terbagi dalam empat model, yaitu:

Pertama, masalah fundamental dalam agama (ushul al-diin) yang berdasarkan pada dalil-dalil yang qath’i. Hal ini seperti tentang ke-MahaEsa-an Allah, keberadaan malaikat, kitab, kerasulan Nabi Muhammad saw., kebangkitan alam kubur, kiamat, dan lain sebagianya. Permasalahan ini tidak boleh diperselisihkan. Siapa yang bertentangan dianggap kafir, keluar dari Islam.

Kedua, sebagian masalah ushul al-diin, seperti masalah melihat Allah swt. di akhirat, hakikat Al-Qur’an apakah makhluk atau kalam Allah. Sebagian menganggap perbedaan dalam masalah ini menyebabkan kekufuran, sebagaimana pendapat Imam Al-Syafi’i. Sebagian lagi menkategorikannya dalam kufur nikmat. Pengkafiran ini disyaratkan bila menafikan adanya sabda Nabi SAW, atau menganggap bahwa apa yang diberitakan beliau adalah dusta, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ghazali dalam Faishal Al-Tafriqah baina Al-Islam wa Al-Zandaqah.

Ketiga, Masalah furu’iyyah yang jamak diketahui dalam agama (al-ma’lumah min al-diin bi al-dharurah), seperti kewajiban shalat lima waktu, keharaman zina, dan lain sebagainya. Masalah ini bukanlah ranah khilaf. Maka, barang siapa bertentangan dengan hal ini, dianggap kafir.

Keempat, masalah cabang yang bersifat ijthadi, yang disebabkan adanya kesamaran dalil bagi seorang mujtahid, baik dalam wurud ataupun dilalah Ini merupakan bagian dari ikhtilaf al-tanawwu’ yang diakomodir dalam agama Islam (Mahir Yasin Al-Fahl, 294).

Bila disederhanakan, keempat model tersebut bisa dipetakan ke dalam dua model saja, yaitu (1) ikhtilaf yang bersifat variatif (tanawwu’), dan (2) ikhtilaf yang berlawanan (tadhadh) dan bertentangan (tanaqudh).

Yang dimaksud dengan ikhtilaf tadhad, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah (1329: 38), yaitu perbedaan pendapat yang saling menafikan, baik dalam masalah yang fundamental (ushuliyyah) ataupun dalam masalah furu’iyyah dimana telah ada nash yang jelas dan qath’i, baik dalam segi wurudh ataupun dilalah. Sekedar contoh misalnya terkait kewajiban shalat lima waktu, kewajiban membayar zakat, kewajiban melakukan haji bagi yang mampu, dan lain sebagainya, dimana dalam masalah tersebut sudah jelas ada nash yang qath’i dan tidak ada interpretasi lain. Maka bilamana ada yang menyelisihi terkait kewajiban tersebut, maka hal itu tidaklah dibenarkan. Inilah yang dimaksud dengan ikhtilaf tadhad.

Adapun yang dimaksud ikhtilaf yang bersifat variatif (tanawwu’) yaitu perbedaan dalam masalah yang bersifat ijtihadi, yang bisa diakomodir. Perbedaan ini disebabkan antara lain karena tidak ada nash yang jelas dalam satu masalah; bisa jadi disebabkan karena lafazh tersebut musytarak, yang tidak mono-intepretatif, bersifat umum, atau mujmal, yang memiliki lebih dari satu atau banyak spekulasi makna, sedangkan tidak ada kepastian mana makna yang tepat antar makna yang ada (Ahmad bin Umar Al-Hazimi, 7).

Contoh perbedaan yang bersifat variatif misalnya perbedaan ulama terkait batal-tidaknya wudhu karena menyentuh wanita, memakan daging hewan yang dipanggang api, dan lain sebagainya. Begitu juga perbedaan antara para sahabat terkait shalat di Bani Quraidhah saat perang Ahzab. Masih banyak contoh peristiwa lain, juga faktor lainnya yang menyebabkan timbulnya perbedaan pendapat dan interpretasi, namun di sini bukan saatnya untuk menjelaskan hal ini secara panjang lebar. Di sinilah perbedaan itu menjadi rahmat bagi semesta.

Bahkan menurut Al-Syathibi (w. 790 H) dalam Al-Muwafaqaat (4/220) sebagaimana dikutip dalam ­Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah  (1404-1427 H: 2/295), hakikat perbedaan semacam ini bukanlah perbedaan, melainkan kesesuaian, karena (1) perbedaan antar dua pemahaman (atau lebih) yang saling bertentangan itu muncul dari interpretasi para mujtahid terhadap dalil, baik karena adanya kemungkinan dalil tersebut memiliki makna ganda (musyrarak), ataupun karena (2) dalil belum sampai pada mereka. Untuk poin kedua, sejatinya tidaklah suatu perbedaan. Karena, andaikata seorang mujtahid akhirnya menelaah dalil yang belum sampai padanya, niscaya ia akan merujuk pendapatnya. Sedangkan pada poin yang pertama, tarik menarik antar beberapa spekulasi, berdasarkan dalil yang dijadikan patokan untuk memahaminya. Meskipun secara kasat mata terjadi perbedaan, namun sejatinya mereka sama-sama berusaha untuk mencapai maksud dari Syari’.

Pembagian ini mirip dengan yang diungkapkan sebelumnya (tanawwu’ dan tadhadh), juga senada dengan yang diungkapkan oleh Al-Imam Al-Syafi’i (w. 204 H) dalam Al-Risalah,  yaitu pertama, ikhtilaf dalam masalah yang terdapat nash hukumnya dalam Al-Qur’an, Sunnah Rasul, atau Ijmak kaum muslimin, dan kedua, masalah yang tidak dijelaskan dalam ketiga dalil tersebut, maka para ulama melakukan ijtihad dengan mencari titik terdekat dengan ketiga dalil tersebut.

 

Pandangan Ulama terkait Ikhtilaf

Sebagaimana disebutkan bahwa pembagian ikhtilaf secara sederhana dibedakan menjadi dua, (1) masalah yang terdapat nash, dan (2) masalah yang tidak terdapat nash. Untuk yang pertama, bisa diketegorikan dalam ikhtilaf tadhadh. Sedangkan yang kedua diketegorikan dalam ikhtilaf tanawwu’. Berikut ini kami paparkan pandangan para ulama terkait hal ini, yaitu:

Pertama, Ikhtilaf Tadhadh

Ikhtilaf tadhad digolongkan menjadi dua, (1) ditolerir dan diperbolehkan, dan (2) tidak diperkenankan. Untuk kategori pertama, sebagaimana diisyaratkan oleh Ibnu Taimiyyah bahwa para sahabat berbeda pendapat dalam sebagian masalah akidah, namun mereka tetap bersatu dan saling menghargai, seperti masalah mendengarnya ahli kubur terhadap suara orang yang masih hidup, siksa mayit karena tangisan keluarganya, Nabi Muhammad melihat Allah di masa hidup beliau (Mahmud Muhammad Al-Khazandar: tt.: 33).

Al-Imam Al-Syafi’i (2009: 460) menyatakan bahwa ikhtilaf dalam masalah yang disebutkan nashnya secara jelas oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah saw dalam Al-Sunnah tidaklah diperkenankan bagi siapapun, bahkan diharamkan, khususnya bagi mereka yang mengetahuinya.

Dalam masalah ini, yang benar secar pasti benar, dan pendapat selainnya pasti salah, karena bertentangan dengan prinsip keimanan, atau karena mengingkari hal-hal yang ma’lum min al-diin bi al-dharurah, atau karena berselisih dengan ijmak, atau dengan nash yang jelas kehujjahannya, serta tidak ada yang menyelisihinya kecuali sebagian kecil saja (syadz) (Mahmud Muhammad Al-Khazandar, 36).

Para ulama sepakat bahwa ikhtilaf dalam masalah yang qath’i dalam segi wurud dan dilalah tidaklah bisa ditolerir, dalam arti bahwa tidak diperkenankan ada ikhtilaf di dalamnya. Artinya tidak ada ranah ijtihad dalam masalah yang sudah jelas dan sharih disebutkan oleh Al-Quran, Al-Hadits dan Ijmak (Mahmud Muhammad Al-Khazandar, 35). Inilah hukum yang menjadi pondasi dasar dalam agama, baik yang berhubungan dengan akidah ataupun masalah-masalah yang bersifat amaliyyah, dimana telah ada ayat-ayat yang muhkamah yang tidak mengandung takwil dan tidak menyulut perbedaan pendapat. Karena Allah menghendaki hal-hal tersebut tetap sepanjang masa, seperti mayoritas masalah warisan, masalah fundamen dalam hukum perdata Islam, ayat hudud dan qishash (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 1/19).

Imam Al-Syafi’i mengungkapkan bahwa di antara dalil yang menyatakan bahwa ikhtilaf dalam masalah ini tidak diperbolehkan yaitu firman Allah swt:

  1. QS Al-Bayyinah [98]: 4.

“Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.”

  1. QS Ali Imran [3]: 105.

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”

Hal senada diungkapkan oleh Yusuf Al-Qaradawi di dalam halaman resminya di qaradawi.net bahwa ranah ijtihad, atau yang disebut para ahli ushul fikih sebagai mujtahad fiih, yaitu semua hukum syariat yang tidak terdapat dalil yang qath’i (pasti).

Kedua, Ikhtilaf Tanawwu’

Yang dimaksud dengan ikhtilaf tanawwu’ yaitu perbedaan pendapat dalam masalah yang tidak terdapat nash, atau terdapat nash namun spekulatif dalam penafsiran, atau masalah tersebut diketahui melalui qiyas. Masalah ini disebut oleh para ulama disebut masalah yang bersifat ijtihadiyyah.

Yaitu masalah yang bisa berkembang, dan Al-Qur’an menyebutkannya sebatas sebagai penjelas prinsip-prinsip pokoknya saja, dan ini biasanya yang menjadi perbedaan di kalangan ulama, bahkan para sahabat sekalipun. Perbedaan semacam ini tidak menjadikan titik pemicu konflik. Sebagian dari mereka tetap mau shalat di belakang orang berbeda pendapat. Sebab setiap dari mereka memandang bahwa pendapat yang dipegangnya benar dengan adanya kemungkinan salah. Begitu juga sebaliknya, mereka yang berbeda dengannya dianggap salah, dengan kemungkinan bisa benar (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 1/19-20).

 

Pendapat Mayoritas Ulama

Dalam hal ini, mayoritas ulama mentolerirnya, dan memandangnya positif. Bahkan menganggapnya sebagai rahmat yang memberi keleluasaan bagi umat Islam dalam beragama (Al-Syafi’i: 460). Bahkan seandainya semua nash Al-Quran dan Al-Sunnah itu qath’i, maka akan terjadi kebekuan (jumud) berpikir, yang merupakan bencana dan malapetaka (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 1/20).

Di antara dalil yang dijadikan mereka sebagai landasan yaitu:

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, yang mana Rasulullah saw bersabda, Apa yang kalian dapatkan dari kitab Allah adalah wajib diamalkan, dan tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Jika tidak ada dalam kitab-Nya, maka sunnahku telah menjelaskan. Jika tidak ada penjelasan dari sunnahku, maka ada pada sahabat-sahabatku. Sesungguhnya mereka layaknya bintang di langit. Kapanpun kalian mengambil pendapat mereka, kalian akan mendapatkan petunjuk. Dan perbedaan antara mereka adalah rahmat bagi kalian.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan lainnya, dari Juwaibir dari Dhahhak dari Ibnu Abbas yang disandarkan kepada Nabi. Al-Sakhawi mengomentari bahwa Juwaibir dha’if sekali. Sedangkan antara Al-Dhahhak dan Ibnu Abbas sanadnya munqathi’ (Al-Maqashid Al-Hasanah,  26).

Hadits Bani Quraizhah riwayat Ibnu Umar

Apa yang terjadi di antara para sahabat dalam peristiwa Bani Quraizhah, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada hari perang Ahzab, “Janganlah ada yang shalat Ashar kecuali di Bani Quraizhah.” Lalu, sebagian mendapati Ashar sedang mereka masih dalam perjalanan. Maka sebagian sahabat berkata, “Kami tidak shalat, hingga kita sampai di Bani Quraizhah.”

Sebagian yang lain berkata, “Bahkan kami akan shalat. Rasulullah tidak bermaksud begitu.” Setelah mereka bertemu Nabi, mereka melaporkannya hal itu kepada beliau, dan beliau tidak mencela salah satu dari mereka (Ibnu Hajar Al-Asqalani, 7/328).

Peristiwa tersebut menunjukkan perbedaan pendapat terjadi di antara para sahabat dalam memahami pesan larangan Nabi saw bidang fiqih, dan saat itu diakomodir dan tidak disalahkan oleh Rasulullah saw.

Hadits, “Ikhtilaf umatku adalah rahmat, sedangkan ikhtilaf umat sebelumnya adalah azab.”

Disebutkan oleh Al-Suyuthi dalam Al-Mizan Al-Kubra (tt: 7), beliau mengomentari bahwa hadits tersebut dikeluarkan oleh Nashr Al-Maqdisi dalam Al-Hujjah. Namun sayangnya Al-Suyuthi tidak menyebutkan takhrijnya secara lengkap (Al-Khashaish Al-Kubra, 1/ 211).

selain itu, kesepakatan para sahabat dalam sejumlah masalah yang diperselisihkan (agree in disagree). Dimana mereka saling mengakui pandangan mereka yang berbeda, dan membiarkan untuk mengamalkan hasil ijtihad mereka. Sebagaimana masalah ibadah, nikah, warisan, politik, dan lain sebagainya (Ibnu Taimiyyah, 9/123).

Mayoritas ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in mengapresiasi ikhtilaf semacam ini, juga para imam setelah mereka. Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Al-Shiddiq (w. 107 H), dimana beliau menyatakan, “Allah melimpahkan manfaat dengan perbedaan antara para sahabat Nabi SAW dalam tindakan mereka. Tiada seorang pun melakukan sebuah tindakan mengikuti para sahabat, melainkan itu sebuah keleluasaan, dan melihat bahwa yang lebih baik dari itu telah dikerjakannya.” (Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 2/296).

Sementara itu, Umar bin Abd Al-Aziz (w. 101 H) berkata, “Aku tidak menyukai bila para sahabat Rasul saw tidak berbeda pendapat. Sebab seandainya mereka dalam satu pendapat, maka umat akan mengalami kesempitan. Para sahabat juga para imam yang diikuti pendapatnya, sehingga bila mana seseorang mengambil pendapat salah satu dari mereka, maka hal itu bagian dari keleluasaan.”

Yahya bin Said, dimana ia berkata, “Perbedaan ulama merupakan keleluasaan. Para mufti tiada henti-hentinya berbeda pendapat, sehingga sebagian ada yang menghalalkan ini dan mengharamkan ini. Tidak sewajarnya si ini mencela si itu.” (Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 2/296).

Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Ucapan kami ini hanyalah satu pendapat yang paling baik menurut kami. Siapa yang memiliki pendapat yang lebih baik, tentu ia lebih utama untuk dibenarkan daripada kami.”(Said Basyanfar, 11).

Satu kisah menakjubkan datang dari Imam Malik bin Anas, ketika keluar titah dari Khalifah Harun Al-Rasyid agar menyebarkan kitab Al-Muwattha’, beliau menjawab,“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya perbedaan ulama adalah rahmat dari Allah swt untuk umat ini. Setiap orang bebas mengikuti pendapat yang dianggapnya benar, dan semuanya atas petunjuk Allah swt, dan semuanya mengharapkan rida dan kebenaran dari-Nya.” (Said Basyanfar, 8-10).

Imam Al-Syafi’i, sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam Al-Risalah (2009: 460) mengakomodir perbedaan dalam masalah ini, dan tidak menganggapnya sebagai hal yang harus dipersempit, berbeda dengan ikhtilaf dalam hal yang telah ada nashnya (Al-Syafi’, 460).

Sufyan Al-Tsauri, sebagaimana disebutkan dalam Hilyah Al-Auliya’ yang dikutip oleh Said Basyanfar (11) mengatakan, “Jika engkau melihat seseorang yang melakukan sesuatu yang diperselisihkan, sementara engkau berpendapat hal yang berbeda dengannya, janganlah melarang perbuatannya itu.”

Ibnu Abidin Al-Hanafi (w. 1252 H/ 1836 M) menyatakan, “Perbedaan antara para mujtahid, dalam masalah cabang (bukan semua masalah), merupakan pengaruh rahmat. Sesungguhnya perbedaan mereka menjadi keleluasaan bagi manusia. Dengan terjadinya banyak ikhtilaf, maka semakin besar dan melimpahnya rahmat dan kasih sayang.” (Said Basyanfar, 10).

Al-Syathibi di dalam Al-I’tisham sebagaimana dikutip oleh Basyanfar (tt.: 25) dalam Adab Al-Ikhtilaf, mengatakan, “Kami memastikan bahwa perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam ranah ijtihad itu terjadi di kalangan sahabat, dan para tabi’in.” Dan masih banyak tokoh lain yang memiliki pendangan serupa. Mereka berpandangan bahwa ikhtilaf semacam ini mendapat legitimasi secara ilmiah. Dimana di dalamnya terdapat hikmah dan rahmat dari Allah, yang dapat memperluas ranah penggalian hukum dari teks-teks.

Perbedaan semacam ini bukanlah hal yang mencederai agama, bahkan ia suatu keniscayaan. Sebab banyak sekali nash-nash yang memiliki spekulasi makna lebih dari satu. Sebagaimana nash juga tidak mungkin dapat mengcover semua peristiwa baru. Sebab nash syariat jumlahnya terbatas, sementara peristiwa tidak terbatas jumlahnya. Sehingga harus merujuk kepada Qiyas dengan melihat illat hukum, tujuan syariat dan maqhashid syariah yang umum (general objectives of shariah). Kemudian menerapkannya dalam peristiwa dan kejadian-kejadian baru, dimana para ulama berbeda pemahaman dalam melakukan tarjih dan berspekulasi. Sehingga menghasilkan hukum yang berbeda. Sebab tujuan mereka satu, yaitu mencari dan mencapai kebenaran. Siapa yang sampai padanya, mendapatkan dua pahala. Siapa yang salah dapat satu pahala (Basyanfar, 27).

 

Kelompok kedua

Kaidah tersebut tidaklah disepakati oleh semua ulama. Sebab terdapat ulama lain yang memandang bahwa ikhtilaf para sahabat dan para ulama bukanlah keleluasaan. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dari Imam Malik, dimana beliau mengatakan bahwa yang benar dalam satu masalah adalah satu.

Selain beliau, juga ada Al-Muzani murid Al-Syafi’i, yang mengatakan bahwa Allah mencela ikhtilaf dan memerintahkan kita untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah (Kementerian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait, 2/296).

Sekedar pengamatan penulis terhadap literatur-literatur yang membahas ikhtilaf dan ijtihad (yang masih sangat terbatas), tidak banyak ditemukan adanya ulama yang menyikapi negatif perbedaan pendapat dalam ranah ijtihadi, dan kami belum menemukan argumentasi dan dalil yang cukup kuat yang mendasari pendapat ini.

 

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas penulis bisa mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Pertama: Ikhtilaf merupakan sunatullah di muka bumi. Hal ini merupakan bagian dari rahmat Allah bagi umat manusia dan merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Kedua: Sebagian ulama membagi ikhtilaf menjadi empat varian, yaitu: 1) dalam masalah ushuluddin berdasar dalil qath’i, 2) dalam sebagian masalah ushuluddin (pokok agama) yang berdasar dalil zhanni, 3) masalah furu’iyyah al-ma’lumah min al-diin bi al-dharurah, dan 4) masalah cabang fikih yang bersifat ijthadi, disebabkan nash yang zhanni.

Ketiga: Berdasarkan sikap ulama terhadapnya, ikhtilaf dibagi menjadi tiga, yaitu:

Pertama, ikhtilaf tidak ditolerir dan tidak diperbolehkan oleh mayoritas para ulama, dan ini disebut sebagai ikhtilah tadhadh, yaitu ikhtilaf dalam masalah ushuluddin dan fiqhiyyah yang termasuk al-ma’lumah min al-diin bi al-dharurah yang ditetapkan berdasarkan dalil atau nash yang qath’i dan sharih. Menyelisihi atau mengingkarinya termasuk kekufuran (a dan c).

Kedua, ikhtilaf dalam masalah tadhadh yang diperbolehkan, yaitu sebagian masalah ushuluddin yang ditetapkan berdasarkan nash yang tidak qath’i baik tsubutan ataupun dilalatan.  Dalam hal ini, sebagian ulama ada yang menganggap pandangan yang berbeda dalam masalah ini dianggap sebagi kekufuran. Namun sebagian lain tidak demikian (b).  

Ketiga, ikhtilaf variatif dalam masalah furu’ fikih yang disebabkan tidak adanya nash yang sharih dan qath’i (poin d). Dalam masalah ini mayoritas ulama sepakat untuk mentolerirnya dan menganggapnya sebagai bagian dari keluwesan syariat serta rahmat bagi umat, berdasarkan fakta-fakta yang terjadi pada masa Nabi, para sahabat dan para tabi’in, juga dilandasi dengan dalil hadits masyhur. Sedangkan yang disebutkan dalam sebagian literatur bahwa perbedaan ini dianggap sesuatu yang tidak perlu sungguh tidak berdasarkan argumentasi yang kuat. Wallahu a’lam.

 

Daftar Pustaka

Al-Fahl, Mahir Yasin, Atsar Ikhtilaf Al-Mutun Wa Al-Asanid fi Ikhtilaf Al-Fuqha,www.ahlalhdeeth.com

Al-Hazimi, Ahmad bin Umar, Syarh Nazhm Al-Waraqaat, http://alhazme.net

Al-Khazandar, Mahmud Muhammad, Fiqh Al-I’tilaf; Qawaid Al-Ta’amul ma’a Al-Mukhalifin bi AL-Inshaf, (Daar al-Thaibah, tt.)

Al-Qaradhawi, Yusuf, Al-Ijtihad fi Al-Syari’ah Al-Islamiyyah, Maktabah Al-Qaradhawi,   http://www.qaradawi.net/library/51/2432.html

Asy-Syafi’i, Muhammad bin Idris, Al-Risalah, (Libanon: Daar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2009),

Basyanfar, Said bin Abd Al-Qadir, Adab Al-Ikhtilaf.

Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abd Al-Halim, Iqtidha’ Shirat Al-Mustaqim Mukhalafah Ashab Al-Jahim, (Kairo: Al-Sunnah Al-Muhammadiyyah, 1329), tah. Muhammad Hamid Al-Fiqqi

_____________, Majmu’ Fatawa

Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman, Kuwait, Maushu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (Ensiklopedia Fikih Kuwait), Kuwait: Daar Al-Salasil, 1404-1427

Thawilah, Abd Al-Wahhab, Atsar Al-Lughah fi Ikhtilaf Al-Mujtahidin (Daar Al-Salam, 2000)

News Feed