by

Moderasi Islam di Era Globalisasi dalam Pandangan Kearifan Lokal Jawa

Moderasi Islam di Era Globalisasi dalam Pandangan Kearifan Lokal Jawa

Oleh: Siti Nur Amanah

STAI Cirebon

amanahsinur@gmail.com

 

Abstak

Selain sebagai agama yang menduduki posisi mayoritas di tengah keberagaman agama-agama di Indonesia, Islam di negeri kepulauan ini dikenal sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan keluhuran adab yang adi luhung. Persenyawaan yang harmonis antara ajaran substansial agama islam dengan kebudayaan nusantara, menjadikan agama ini menempati posisi tersendiri di hati masyarakat. Namun sayangnya, realitas ini berlaku di era pra reformasi ke belakang. Pasca runtuhnya era orde baru tahun 1998 silam sampai saat ini, wajah islam di Indonesia cenderung ditampilkan dengan semakin garang dan geram (Winarto Eko Wahyudi, 2018). Kenyataan ini, diperburuk dengan datangnya era globalisasi, sehingga turut serta dalam membentuk opini di masyarakat, khususnya antar pemeluk agama islam. Datangnya era Globalisasi menurut Agus Wibowo dan Gunawan (2015: 21) dibarengi dengan budaya global, hedois dan kapitalis, yang lambat laun menggeser budaya asli (khususnya budaya jawa). Generasi muda yang sebelumnya belum memahami budaya aslinya, begitu mudah mengikuti budaya baru tersebut. Padahal, kebudayaan ini sangat bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia yang masih menjunjung tinggi adat dan budaya ketimuran. Berdasarkan fenomena tersebut, maka perlu dilakukan usaha menagkal pengaruh budaya globalisasi tersebut dengan penggalian nilai- nilai luhur budaya asli yang selanjutnya disosialisasikan kepada generasi muda. Maka, mengulang pendapat Hidayat Widiyanto (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:21), perlu dilakukan kembali rasionalisasi kearifan budaya lokal Jawa sehingga generasi muda memahami dan terdorong untuk menjalankannya.

Kata kunci:  Moderasi Islam, Era Globalisasi, Kearifan Lokal Jawa

 

Pendahulan

Kearifan lokal masyarakat sudah ada di dalam kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu mulai dari zaman prasejarah hingga saat ini, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang datang bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petunjuk nenek moyang atau budaya setempat, yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, perilaku ini berkembang menjadi suatu kebudayaan disuatu daerah dan akan berkembang secara turun temurun (Wietoler dalam Manaf, 2015).

Kearifan lokal bisa menjadi basis moderasi Islam di era globalisasi. Kearifan lokal teruji dan mampu bertahan dalam waktu  yang lama. Senada dengan penulis, Moendardjito (t.t) (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:19) menyatakan bahwa kearifan dapat digali dan dijadikan basis moderasi islam diera globalisasi. Itu karena kearifan memiliki hal-hal berikut: (1). Mampu bertahan terhadap budaya luar, (2). Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, (3). Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar kedalam budaya asli, (4). Mempunyai kemampuan mengendalikan, dan (5). Mampu member arah pada perkembangan budaya.

Hanya saja, perkembangan zaman yang demikian pesat membuat kearifan lokal mulai tergerus. Hal ini,menurut Hidayat Widiyanto (t.t) (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:19), karena kearifan lokal dimaknai sebagai sebuah nilai dari leluhur yang tidak boleh dididkusikan kandungan nilainya. Generai terdahulu mungkin dapat menerima konsep itu, tetapi generasi sekarang memerlukan logika berpikir dalam menerima nilai- nilai yang terkandung dalam kearifan lokal. Oleh karena itu, penggalian kearifan lokal sebagai basis moderasi islam diera globalisasi merupakan revitalisasi kearifan lokal, sehingga menjadi pemaknaan ulang dan kita lebih bisa menghayatinya karena tidak jauh dari budaya kita.

Penulis sangat tertarik untuk mengangkat kearifan lokal yang dimiliki oleh suku Jawa. Menurut Agus Wibowo dan Gunawan (2015), kearifan lokal suku Jawa ini sangat adiluhung, yang tersimpan apik dalam kebudayannya. Selanjutnya menurut Nanik Herawati (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:20), kebudayaan jawa merupakan cermin utuh dari kehidupan masyarakat jawa. Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya jawa yang beraneka ragam dan corak. Butir- butir kearifan lokal jawa tidak hanya memperluas, tetapi juga menjadi lahan yang subur untuk memperkaya khazanah budaya bangsa.  Pendek kata, budaya yang begitu beragam member kearifan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk memaknai dan mengembangkan budaya daerah sebagai kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Menurut Herawati (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:20), dalam budaya jawa kebenaran dan kebersamaan senantiasa dijunjung tinggi menjunjung tinggi. Hakikat kebenaran lebih berorentasi pada oleh rasa, oleh cipta yang berorentasi pada rasa tunggal, satu rasa. Hakikat kebersamaan, diandasi oleh sikap sayuk rukun, dan gotong royong demi terciptanya kesejahteraan bersama. Segala sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan dan perubahan atau owah gingsire zaman, dipandang sebagai sesuatu keselarasan hidup yang bener dan pener atau betuldan tepat.

 

Pengertian Moderasi Islam

Moderasi Islam dalam bahasa arab disebut dengan al-Wasathiyyah al-Islamiyyah. Al-Qaradawi menyebut beberapa kosakata yang serupa makna dengannya termasuk kata Tawazun, I’tidal, Ta’adul dan Istiqamah. Sementara dalam bahasa inggris sebagai Islamic Moderation. Moderasi Islam adalah sebuah pandangan atau sikap yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua sikap yang berseberangan dan berlebihan sehingga salah satu dari kedua sikap yang dimaksud tidak mendominasi dalam pikiran dan sikap seseorang. Dengan kata lain seorang muslim moderat adalah muslim yang memberi setiap nilai atau aspek yang berseberangan bagian tertentu tidak lebih dari porsi yang semestinya. Karena manusia-siapa pun ia tidak mampu melepaskan dirinya dari pengaruh dan bias baik pengaruh tradisi, pikiran, keluarga, zaman dan tempatnya, maka ia tidak mungkin merepresentasikan atau mempersembahkan moderasi penuh dalam dunia nyata. Hanya Allah yang mampu melakukan hal itu. Yusuf alQaradhawi (dalam Abd. Rauf Mohamad Amin, 2014).

Pengertian di atas menurut Abd. Rauf Mohamad Amin (2014) hampir diadopsi oleh kalangan pemikir dan intelektual muslim yang menulis tentang Moderasi Islam meskipun dengan redaksi yang berbeda namun semuanya memiliki substansi dan esensi makna yang sama. Wahba Zuhaili, misalnya, mengartikan Moderasi Islam sebagai berikut: Moderasi dalam pengertian umum di zaman kita berarti keseimbangan dalam keyakinan, sikap, perilaku, tatanan, muamalah dan moralitas. Ini berarti bahwa Islam adalah agama yang sangat moderat, tidak berlebihan dalam segala perkara, tidak berlebihan dalam agama, tidak ekstrim pada keyakinan, tidak angkuh atau lemah lembut dan lain-lain. Wahbah al-Zuhaili (dalam Abd. Rauf Mohamad Amin, 2014).

Dalam realitas kehidupan nyata, manusia tidak dapat menghindarkan diri dari perkara-perkara yang berseberangan. Karena itu al-Wasathiyyah Islamiyyah mengapresiasi unsur rabbaniyyah (ketuhanan) dan Insaniyyah (kemanusiaan), mengkombinasi antara Maddiyyah (materialisme) dan ruhiyyah (spiritualisme), menggabungkan antara wahyu (revelation) dan akal (reason), antara maslahah ammah (al-jamaaiyyah) dan maslahah individu (al-fardiyyah). Konsekuensi dari moderasi Islam sebagai agama, maka tidak satupun unsur atau hakikat-hakikat yang disebutkan di atas dirugikan. Yusuf al-Qaradhawi (dalam Abd. Rauf Mohamad Amin, 2014).

Konsep “Islam moderat” pada dasarnya hanyalah sebatas tawaran yang semata-mata ingin membantu masyarakat pada umumnya dalam memahami Islam. Bersikap moderat dalam ber-Islam bukanlah suatu hal yang menyimpang dalam ajaran Islam, karena hal ini dapat ditemukan rujukannya, baik dalam al-Qur’an, al-Hadits, maupun perilaku manusia dalam sejarah (Miftahuddin, 2010).

Kearifan Lokal  Jawa

Kearifan lokal Jawa sebagai bagian dari kebudayaan Jawa telah menjadi bagian penting dari denyut nadi kehidupan masyarakat Jawa dan mereka yang simpati dengan kebudayaan Jawa. Kearifan lokal Jawa, sebagiamana kearifan lokal lainnya, memiliki posisi yang sangat strategis.

Adapun pengertian kearifan lokal menurut Haryati Soebadio (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:16-17), merupakan sebuah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap, bahkan mengolah kebudayaan yang berasal dari luar/ bangsa lain menjadi watak dan kemampuan sendiri. Kearifan local sifatnya menyatu dengan karakter masyarakat, karena keberadaannya selalu laksanakan dan lestarikan dalam kondisi tertentu malah sangat dihormati.

Suhartini  (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:17-18), mendefinisikan kearifan lokal sebagi sebuah warisan nenek moyang yang berkaitan dengan tata nilai kehidupan. Tata nilai kehidupan ini menyatu tidak hanya dalam bentuk religi, tetapi juga dalam budaya, dan adat istiadat. Ketika sebuah masyarakat melakukan adaptasi dengan lingkungannya, mereka mengembangkan suatu kearifan baik yang berwujud pengetahuan atau ide, peratalatan, dipadu  dengan norma adat, nilai budaya, aktivitas mengelola lingkungan guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Sebuah kearifan yang berkaitan dengan adaptasi terhadap lingkunannya inilah yag disebut Suhartini sebagai kearifan lokal.

Senada dengan Suhartini, Putu Oka Ngakan  (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:18), menyebut kearifan lokal sebagai bentuk kearifan juga cara sikap terhadap lingkungannya yang ada dalam kehidupan bermasyarakat disuatu tempat atau daerah. Dengan demikian kearifan lokal itu merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu. Singkatnya, kearifan lokal menurut Ngakan  (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:18), merupakan tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat hidup secara arif.

Sementara Keref (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:18), menegaskan bahwa kearifan local adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan didalam komunitas ekologis. Semua bentuk kearifan lokal ini dihayati, dipraktikan dan diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi sekaligus membentuk pola perilaku manusia terhadap sesama manusia, alam maupun gaib.

Selanjutnya Francis Wahono (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:18), secara lengkap memberikan definisi mengenai kearifan local. Menurut Wahono, kearifan lokal merupakan kepandaian dan strategi- strategi pengelolaan alam semesta dalam menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad- abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala serta keteledoran manusia. Kearifan local tidak hanya berhenti pada etika, tetapi sampai pada norma, tindakan dan tingkah laku, sehingga kearifan local dapat menjadi seperti religi yang memedomani manusia dalam bersikap dan bertindak, baik dalam konteks kehidupan sehar-hari maupun mementukan peradaban manusia yang lebih jauh.

 

Sekilas Tentang Masyarakat Jawa

Berdasarkan penelitan banyak ahli, diketahu bahwa kebudayaan Jawa merupakan hasil budi daya cipta, rasa dan karsa masyarakat jawa atau tepatnya suku bangsa Jawa. Secara geografis masyarakat Jawa mendiami Pulau Jawa bagian tengah dan bagian Timur. Namun demikian, secara kolektif terdapat daerah- daerah yang disebut “ daerah kejawen” yang meliputi: Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Adapun daerah diluar daerah ini dinamakan daerah pesisir dan ujung timur, (Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:29-30).

Senada dengan pendapat Mohammad Damami (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:30-31), istilah “Jawa” dalam tulisan ini memang lebih bernuansa etnis daripada sekedar dibatasi oleh geografis huniannya. Sebab, menurut Agus Wibowo dan Gunawan (2015) “orang jawa” saat ini, dan barang kali untuk masa seterusnya tersebar secara geografis dan tidak melulu dipulau Jawa. Mereka berkelana antar pula bahkan, antar benua. Lanjut menurut Agus Wibowo dan Gunawan (2015), sekalipun istilah “Jawa” lebih dititikberatkan pada nuansa etnis, namun faktor komitmen pada apa yang disebut “Kebudayaan Jawa” (terutama yang berpusat dia keraton) masih menjadi pertimbangan. Sebab di zaman sekarang, orang yang jelas- jelas beretnis Jawa, namun tampilan kulturnya “tidak njawani”. Kehidupannya telah didasari kultur lain yang lebih kental dihayatinya, Mohammad Damami (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:31). Jadi, “masyarakat Jawa” yang dimaksud adalah masyarakat yang beretnis Jawa yang masih komitmen terhadap kebudayaan Jawa apakah tinggal di Pulau Jawa, khususnya di Yogyakarta atau juga diluar Pulau Jawa (Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:31).

Makna Agama Bagi Orang Jawa

Berdasarkan pertemuan agama-agama di Jawa, Clifford Geertz  (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:48) membagi corak keagamaan masyarakat Jawa menjadi beberapa varian yaitu: agama orang abangan, agama orang santri dan agama priyayi. Perbedaan penggolongan ini berpijak dari definisi awal Geertz  (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:48) tentang arti agama. Menurut Geertz (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:48), agama adalah sebuah system kebudayaan. Kebudayaan didefinisikan sebagai pola bagi kelakuan yang terdiri atas serangkaian aturan, resep- resep, rencana- rencana dan petunjuk yang digunakan manusia dalam mengatur hidupnya. Geertz  (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:48) juga mendefinisikan agama sebagai suatu sistem simbol yang bertindak untuk memanatapkan perasaan- perasaan (mood), dan motivasi- motivasi  secara kuat, menyeluruh dan bertahan lama dalam diri manusia. Sehingga, menurut Geertz, walaupun seseorang telah aktif dalam tipe santri, tetapi masih memiliki dan menjalankan konsep- konsep abangan, orang tersebut tetap dinamakan abangan.

Etika Orang Jawa

Pada masa pemerintahan orde baru, oarng Jawa (dan kebudayaan Jawa pada umumnya) sangat popular. Apalagi, presiden Soeharto saat itu dikenal sangat njawani sekaligus penganut setia budaya Jawa. Tak heran jika setiap langkah dan kebijakannya, banyak terinspirasi sekaligus terjiwai nilai- nilai filosofi Jawa.

Salah satu slogan yang ampuh dalam dunia politik orde baru adalah manunggaling kawula-gusti. Filosofi ini disalahartikan sebagai wujud manunggal (bersatunya) tekad politik anatar penguas (raja) dengan rakyatnya (kawula). Padahal, maakna falsafah jawa manunggaling kawula-gusti, menurut Muhammad Damami (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:55), pada hakikatnya meski dibagi dalam pengertian sosio- cultural dan religio-spiritual (mistik), tetap merupakan pengalaman pribadi yang tidak terbatas (tanpa wangunan) sebagi pertemuan hamba dengan penciptanya (Tuhannya) yang dalam istilah kaum sufi sebagai makrifat.

Pun begitu ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkuasa. Sebagimana persiden Soeharto, SBY juga kental nuansa kejawen serta politik Jawanya. Dari tutur kata dan tindakannya yang berwibawa, SBY berusaha berperilaku arif dan bijaksana dengan mengadopsi filosofi dunia pewayangan Jawa, layaknya raja- raja yang pernah berkuasa di Jawa (Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:55-56).

Kesimpulan

Kearifan lokal Jawa sebagai bagian dari kebudayaan Jawa telah menjadi bagian penting dari denyut nadi kehidupan masyarakat Jawa dan mereka yang simpati dengan kebudayaan Jawa. Kearifan lokal Jawa, sebagiamana kearifan local lainnya, memiliki posisi yang sangat strategis. Menurut Rahyono (dalam Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:20), posisi strategis kearifan local Jawa itu antara lain: (1) kearifan lokal Jawa telah menjadi salah satu pembentuk identitas; (2) kearifan lokal Jawa bukan lagi merupakan sebuah nilai yang asing bagi pemiliknya, khususnya suku bangsa Jawa; (3) keterlibatan emosional masyarakat Jawa dalam penghayatan kearifan lokal kuat; (4) kearifan lokal jawa mampu menumbuhkan harga diri, dan (5) kearifan lokal Jawa mampu meningkatkan bangsa dan negara.

Pendapat Rahyono tersebut cukup kuat bagi penulis untuk menjadikan nilai- nilai kerarifan lokal jawa sebagi basis moderasi Islam diera globalisasi. Hal tersebut bisa berdampak positif dan strategis tidak hanya bagi pemilik budaya masyarakat Jawa, tetapi dapat juga berdampak pada mereka yang hendak mempelajari  dan menginternalisasikan nilai-nilai tersebut.

Daftar Pustaka

Amin, Abd, Rauf Muhammad. 2014. Prinsip dan Fenomena Moderasi Islam Daalam Tradisi Hukum Islam. Jurnal Al- Qalam. Vol. 20, Edisi Khusus Desember. (diakses 12 Juni 2018).

Manaf Abdul. 2015. Sistem Kearifan Lokal Indonesia. http:// Manaf25.blogspot.com/2015/12/makalah-sistem-kearifan-lokal-indonesia.html. (diakses 14 Juni 2018).

Miftahuddin. 2010. Islam Moderat Konteks Indonesia Dalam Persfektif Historis. Muzaik. Vol.5, No.1. (diakses 14 Juni 2018).

Wahyudi Eko Winarto. 2018. Tantangan Islam Moderat di Era Disrupsi (Mempromosikan Islam Wasiyat Diera Generasi Millennia). Prosiding. UIN Sunan Ampel Surabaya.  (diakses 14 Juni 2018).

Wibowo, Agus dan Gunawan. 2015. Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. I.

Catatan: Tulisan di atas dimuat dalam buku “Moderasi Islam di Era Disrupsi”. Selengkapnya bisa dilihat di link berikut:

News Feed