by

Mengoptimalkan Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran Abad 21

Siti Nur Amanah

STAI Cirebon

amanahsinur@gmail.com

Abstrak

Mengajar bukan hanya menyampaikan materi pelajaran saja, akan tetapi pekerjaan yang bertujuan dan bersifat kompleks. Tugas guru adalah mempersiapkan generasi manusia yang dapat hidup dan berperan akatif dalam masyarakat. Oleh sebab itu, tidak mungkin pekerjaan seorang guru dapat terlepas dari kehidupan sosial. Hal ini berarti apa yang dilakukan guru akan mempunyai dampak terhadap kehidupan masyarakat. Pekerjaan guru bukanlah pekerjaan yang statis, tetapi pekerjaan yang dinamis yang selamanya harus sesuai dan menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itulah guru dituntut peka terhadap dinamika perkembangan masyarakat, baik perkembangan kebutuhan yang selamanya berubah, perkembangan sosial, budaya, politik, termasuk perkembangan teknologi (Wina Sanjaya, 2014: 21).

Guru profesional abad 21 adalah guru yang terampil dalam pengajaran, mampu membangun dan mengembangkan hubungan antara guru dan sekolah dengan komunitas yang luas, dan seorang pembelajar sekaligus agen perubahan di sekolah, Hargreaves dalam (Dwi Esti Andrianai, 2010). Dari pemaparan di atas, penulis mencoba menulis bagaimana mengoptimalkan peran guru dalam proses pembelajaran di abad 21.

Kata kunci: Guru, Pembelajaran, Abad 21

 

Pendahuluan

Ketika ilmu pengetahuan masih terbatas, ketika penemuan hasil- hasil teknologi belum berkembang hebat seperti sekarang ini, maka peran utama guru disekolah adalah menyampaikan ilmu pengetahuan sebagai warisan kebudayaan masa lalu yang dianggap berguna sehingga harus dilestarikan. Dalam kendisi demikian guru  berperan sebagai sumber belajar (learning resources) bagi siswa. Siswa akan belajar apa yang keluar dari mulut guru. Oleh karena itu, ada pepatah yang menyebutkan bagaimanapun pintarnya siswa, maka tidak mungkin dapat mengalahkan pinternya guru.  Apakah dalam kondisi yang demikian masih tetap dipertahankan? Apakah ilmu pengetahuan sebagai warisan masa lalu yang harus dikuasai itu hanya dapat dipelajari dari dalam mulut guru? Tentu tidak. Dalam abad teknologi dan informasi siswa dapat mempelajarinya dari berbagai sumber (Wina Sanjaya, 2014: 21).

Di abad 21 telah terjadi transformasi besar pada aspek sosial, ekonomi, politik dan budaya Hargreaves dalam (Dwi Esti Andrianai, 2010) yang didorong oleh empat kekuatan besar yang saling terkait yaitu kemajuan ilmu dan teknologi, perubahan demograsi, globalisasi dan lingkungan Mulford dalam (Dwi Esti Andrianai, 2010) Perubahan lingkungan misalnya pemanasan global telah berdampak pada kebutuhan peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungan. Kekuatan-kekuatan ini juga berdampak pada dunia pendidikan khususnya persekolahan Mulford dalam (Dwi Esti Andrianai, 2010).

Namun demikian, sependapat dengan Wina Sanjaya (2014:21) guru dalam proses pembelajaran mempuyai peran yang sangat  penting. Bagaimanapun hebatnya kemajuan teknologi, peran guru akan tetap diperlukan. Teknologi yang konon bisa memudahkan manusia mencari dan mendapatkan informasi dan pengetahuan, tidak mungkin dapat mengganti peran guru. Syaodih  dalam (M. Walid Mudri, 2010) juga mengemukakan bahwa guru memegang peranan yang cukup penting baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Lebih lanjut dikemukakan bahwa guru adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Ini berarti bahwa sukses tidaknya suatu pembelajaran mencapai target dan tujuan pendidikan banyak ditentukan oleh kualitas peran guru sebagai kata kunci.

Dengan kata lain kinerja guru merupakan faktor yang dominan dalam menentukan kualitas pembelajaran. Artinya kalau guru yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran mempunyai kinerja yang bagus, akan mampu meningkatkan sikap dan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pembelajaran, dan begitu juga sebaliknya (Dyah Putri Safitri,  Khaerudin , Diana Ariani, 2018)

Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran adalah suatu usaha manusia yang penting dan bersifat kompleks. Dikatakan kompleks karena banyaknya nilai-nilai dan faktor-faktor manusia yang turut terlibat di dalamnya. Dikatakan sangat penting, sebab pembelajaran adalah usaha membentuk manusia yang baik. Kegagalan pembelajaran dapat merusak satu generasi masyarakat. Ada yang memahami bahwa pembelajaran tidak dapat disamakan dengan pendidikan. Pembelajaran lebih sering dipahami dalam pengertian suatu kegiatan yang menyangkut pembinaan anak mengenai segi kognitif dan psikomotor semata-mata, yaitu supaya anak lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berpikir kritis, sistematis, dan obyektif, serta terampil dalam mengerjakan sesuatu, misalnya terampil menulis, berenang, memperbaiki alat elektronik dan sebagainya (Muh. Zein, 2016).

Kata “pembelajaran” adalalah terjemahan dari “instruction”, yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif holistik, yang menempatkan siswa sebagi sumber dari kegiatan. Selain itu, istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknolohi yang diasumsikan dapat mempermudah siswa memeplajari segala sesuatu lewat berbagai macam media, seperti bahan-bahan cetak, program televisi, gambar, audio dan lain sebagainya, sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peran guru dalam mengelola proses belajar mengajar, dari guru sebagi sumber menjadi guru sebagi fasilitator dalam mengajar. Hal ini seperti yang diungkapkan Gagne (1992:3), yang menyatakan bahwa, “instruction is a set of event that effect learners in such a way that learning is facilitated”. Oleh karena itu menurut Gagne, mengajar atau teaching merupakan bagian dari pembejaran (instruction), dimana peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengarasemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan dan dimanfaatkan siswa dalam memepelajari sesuatu. Lebih lengkap Gagne menyatakan: “Why do we speak of instruction rather than teaching? It is because we wish to describe all of the events that may have a direct effect on the learning of a human being, not just those set in motion by a page of print, by a picture, by a television program, or by combination of physical objects, among other things. Of course, a teacher may play an essential role in the arrangement of any these events” Gagne dalam (Wina Sanjaya, 2014: 102-103).

Dalam istilah “pembelajaran” yang lebih dipengaruhi oleh perkembangan hasi-hasil teknonogi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan belajar, siswa diposisikan sebagai subjek belajar yang memegang peran yang utama, sehingga dalam seting proses belajar mengajar siswa dituntut beraktivitas secara penuh, bahkan secara individual mempelajari bahan pelajaran. Dengan demikan, kalau dalam istilah “mengajar (pengajaran)” atau “teaching” memempatkan guru sebagai :pemeran utama” memberikan informasi, maka dalam “instruction” guru lebih banyak berperan sebagi fasilitator, memanage berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa. (Wina Sanjaya, 2014:103). Adapun prinsip pembelajaran menurut Basyiruddin dalam (Muh. Zein, 2016) yaitu;

Pertama, memunculkan minat dan perhatian

Minat dan perhatian merupakan suatu gejala jiwa yang selalu bertalian. Seorang peserta didik yang memiliki minat dalam belajar, akan timbul perhatiannya terhadap pelajaran yang diminati tersebut. Akan tetapi perhatian seseorang kadang kala timbul dan adakalanya hilang sama sekali. Suatu saat peserta didik kurang perhatiannya terhadap penjelasan yang diberikan oleh guru di muka kelas bukan disebabkan dia tidak memiliki minat dalam belajar boleh jadi ada ganguan dalam dirinya atau perhatian lain yang mengusik ketenangannya di ruang kelas 12 atau metode yang diterapkan oleh guru tidak pas dengan naluri anak tersebut.

Kedua, memberikan motivasi

Prinsip pembelajaran diharapkan memberikan motivasi atau dorongan yang timbul dalam diri seseorang, di mana seseorang memperoleh daya jiwa yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang timbul dalam dirinya sendiri dinamakan motivasi instrinsik. Sedangkan dorongan yang timbul yang disebabkan oleh adanya pengaruh luar disebut motivasi ekstrinsik. Seorang guru dapat memberikan bermacam-macam prinsip dan metode sebagai motivasi terhadap peserta didik, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal.

Ketiga, memberikan makna yang besar pada pendidik dan peserta didik

Dalam hal ini seorang guru atau pendidik dapat memilih metode mana yang layak dipakai, mempertimbangkan keunggulan dan kelemahannya, serta kesesuaianmetode tersebut dengan karakteristik siswa atau ciri-ciri khas materi yang akan disajikan sehinggakegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara optimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.


Peran Guru dalam Pembelajaran

Adapun peran guru dalam pembelajaran menurut Wina Sanjaya (2014:21-33) adalah sebagai berikut:

1. Guru sebagai Sumber Belajar

Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Kita bisa menilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru  yang baik manakala iadapat menguasai materi pelajran dengan baik, sehingga benar- benar ia berperan sebagai sumber belajar yang baik bagi anak didiknya. Adapun yang ditanyakan siswa berkaitan dengan materi pelajaran yang sedang diajarkannya, ia akan menjawab dengan penuh keyakinan. Sebaliknya, dikatakan guru yang kurang baik manakala ia tidak paham tentang materi yang diajarkanya. Ketidakpahaman tentang materi pelajaran biasanya ditunjukan oleh perilaku-perilaku tertentu, misalnya teknik penyampaian materi pelajaran yang monoton. Ia lebih sering duduk dikursi sambil membaca, suaranya lemah, tidak berani melakukan kontak mata dengan siswa, miskin dengan ilustrasi, dan lain-lain.  Perilaku yang demikian bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan pada diri siswa, sehingga guru akan sulit mengendalikan kelas.

Sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran hendaknya guru melakukan hal- hal sebagai berikut: (a). sebaiknya guru memiliki bahan referensi yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa. Hal ini untuk menjaga agar guru memiliki pemahaman yang lebih baik tentang materi yang akan dikaji bersama siswa. Dalam perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, bisa terjadi siswa lebih ”pintar” dibandingkan guru dalam hal penguasaan informasi. Oleh sebab itu, untuk menjaga agar guru tidak ketinggalan informasi,  sebaiknya guru memiliki bahna- bahan dari internet, atau dari bahan cetak terbitan terakhir, atau berbagau informasi dari media masa, (b). Guru dapat menunjukan sumber belajar yang dapat dipelajari oleh siswa yang biasanya memiliki kecepatan belajar diatas rata- rata siswa lain. Siswa yang demikian perlu diberikan perlakuan khusus, misalnya dengan meberikan bahan pengayaan dengan menunjukkan sumber belajar yang berkenaan  dengan materi pelajaran, (c). Guru perlu melakukan pemetaan tentang materi pelajaran, misalnya dengan menentukan mana materi inti (core), yang wajib dipelajari siswa, mana materi tambahan, mana materi yang harus diingat kembali karena pernah dibahas, dan lain sebagainya. Melalui pemetaan seperti ini akan memudahkan bagi guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai sumber belajar.

2. Guru sebagai Fasilitator

Agar dapat melaksanakan peran sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran, ada beberapa hal yang harus dipahami, khususnya hal- hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai  media dan sumber pelaajaran, diantaranya yaitu : (a). Guru perlu memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing- masing media tersebut. Pemahaman akan fungsi media sangat diperlukan, belum tentu suatu media cocok digunakan untuk mengajarkan semua bahan pelajaran. Setiap media memiliki karakteristik yang berbeda, (b). guru perlu memiliki ketrampilan dalam merancang suatu media. Kemampuan merancang media merupakan salah satu kompetensi yang harus dimliki oleh seorang guru yang professional. Dengan perencanaan media yang dianggap cocok akan memudahkan proses pemebelajaran, sehingga pada gilirannya tujuan pembelajaran akan tercapai secara optimal, (c). Guru dituntut untuk mampu mengorganisasikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkan berbagai sumber belajar. Perkembangan teknologi informasi menentut setiap guru untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi mutakhir. Berbagai perkembangan teknologi informasi memungkinkan setiap guru bisa menggunakan berbagai pilihan media yang dianggap cocok, (d). sebagai fasilitator, guru dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa. Hal ini sangat penting, kemampuan berinteraksi secara efektif dapat memudahkan siswa menangkap pesan sehingga dapat meningkatkan motifasi belajar mereka.

3. Guru sebagai Pengelola

Sebagai pengelola pembelajran (lerning manajer), guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.

Menurut Ivor K. Devais, salah satu kecenderungan yang sering dilupakan adalah melupakan bahwa hakikat pembelajran adalah belajarnya siswa dan bukan mengajarnya guru. Dalam hubunganya dengan pengolaan pembelajaran, Alvin C.Eurich menjelaskan prinsip- prinsip belajar yang harus diperhatikan guru, sebagi berikut: (a). Segala sesuatu yang dipelajari oleh siswa, maka siswa harus mempelajarimya sendiri, (b). Setiap siswa yang belajar memiliki kecepatan masing- masing, (c). Seorang siswa akan belajar lebih banyak apabila setiap selesai melaksanakan tahapan kegiatan diberikan reinforcement, (d). Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti, (e). Apabila siswa diberi tanggung jawab, maka ia kan lebih termotivasi untuk belajar.

Dalam pengolaan pembelajaran ada dua macam kegiatan yang harus dilakukan, yaitu mengelola sumber belajar dan melaksanakan peran sebagai sumber belajar itu sendiri. Sebagi manajer, guru memiliki empat fungsi umum, yaitu: (a). Merencanakan tujuan belajar, (b). Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar, (c). Memimpin, yang meliputi memotivasi, mendorong, dan menstimulasi siswa, (d). Mengawasi segala sesuatu, apakah sudah berfungsi sebagaimana mestimya atau belum dalam rangka pencapain tujuan.

4. Guru sebagai Demonstrator

Yang dimaksud dengan guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan. Ada dua konteks guru sebagai demonstrator. Pertama, sebagi demonstaor berarti guru harus menunjukan sikap- sikap terpuji. Dalam setiap aspek kehidupan, guru  merupakan sosok ideal bagi setiap siswa. Baisanya apa yang dilakukan guru akan menjadi acuan bagi siswa. Dengan demikan, dalam konteks ini guru sebagai model dan teladan bagi setiap siswa. Kedua, sebagai demonstrator guru harus dapat menunjukan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran bisa lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa. Oleh karena itu, setiap demonstrator erat kaitannya dengan pengaturan strategi pembelajaran yang lebih efektif.

5. Guru sebagai Pembimbing

Agar guru berperan sebagai pembimbing yang baik, maka ada beberapa hal yang harus dimiliki, di antaranya: Pertama, guru harus memiliki pemahaman tentang anak yang sedang dibimbingnya. Misalnya, pemahaman tentang gaya dan kebiasaan belajar serta pemahaman tentang potensi dan bakat yang dimiliki anak. Pemahaman ini sangat penting artinya, sebab akan menentukan tentang teknik dan jenis bimbingan yang harus diberikan kepada  mereka.

Kedua, guru  harus memahmai dan terampil dalam merencanakan, baik merencanakan tujuan dan kompetensi yang akan dicapai maupun merencanakan proses pemeblajaran. Proses bimbingan akan dapat dilaksanakan dengan baik manakala sebelumnya guru merencanakan hendak dibawa kemana siswa, apa yang harus dilakukan, dan sebagainya. Untuk merumuskan ttujuan yang sesuai guru harus memahami segala sesuatu yang berhubungan baik dengan system nilai masyarakat maupun denga kondisi psikologis dan fisiologis siswa, yang kesemuannya itu  terkandung dalam kurikulum sebagai pedoman dalam merumuskan tujuan dan kompetensi yang harus dimiliiki. Disamping itu, guru juga perlu mampu merencanakan dan mengimplementasikan proses pembelajran yang melibatkan siswa secara penuh. Proses membimbing adalah proses memberikan bantuan kepada siswa, dengan demikan yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah siswa itu sendiri.

6. Guru sebagai Motivator

Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa, dibawah ini kemungkinan beberapa petunjuk:

  1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai

Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham kearah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya guru menjelaskan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai.

  • Membangkitkan minat siswa

Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan diantaranya: 1). Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa. Minat siswa akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian guru perlu menjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan siswa, 2). Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa. Materi pelajaran yang terlalu sulit dipelajar atau materi pelajaran yang jauh dari pengalaman siswa, akan tidak diminati oleh siswa. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan siswa akan gagal mencapai hasil yang optimal dan kegagalan itu dapat membunuh minat siswa untuk belajar. Biasanya minat akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar, 3). Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi,  dan lain-lain.

  • Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar

Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan selamanya kelas dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu  sekali- kali guru dapat melakukan hal-hal yang lucu.

  • Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa

Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikan pujain yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya dengan kata-kata, justru ada anak yang merasa tidak senang dengan kata-kata. Pujian sebagai penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya dengan senyuman atau anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.

  • Berikan penilaian

Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai yang bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing- masing.

  • Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa

Siswa butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar yang positif. Setelah siswa selesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dnegan meberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjanmu”,  dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

  • Ciptakan persaingan dan kerjasama

Persaingan yang sehat dapat meberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pemeblajaran siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha denga sungguh- sungguh untuk memperoleh hasil yang baik. Oleh sebab itu, guru  harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk bersaing antar kelompok maupun antar individu. Namun demikian, diakui persaingan tidak selamanya menguntungkan, terutama untuk siswa yang dirasa tidak mampu untuk bersaing, untuk itu  pendekatan cooperative learning dapat dipertimbangkan untuk  menciptakan persaingan antar kelompok.

Disamping beberapa petunjuk cara untuk  membangkitkan motivasi belajar siswa diatas, adakalanya motivasi itu juga bisa dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negative seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus- kasus tertentu. Bebrapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan siswa. Untuk itulah seandainya masih bisa denga cara-cara positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.

7. Guru sebagai Evaluator

            Sebagi evaluator, guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pemeblajaran yang telah dilakuakan. Terdapat dua fungsi dalam melaksanakan perannya sebagai evaluator. Pertama, untuk mnentukan keberhasilan siwa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan atau menentukan keberhasilan siswa dalam menyerap materi kurikulum. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.

Dengan kata lain 7 peranan guru tersebut implementasinya bersifat situsional dan kondisional serta fungsional disesuaikan dengan materi, tujuan, pendidik dan peserta didik dan seterusnya.

Peran Guru Abad 21

Guru abad 21 dituntut tidak hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan kelas dengan efektif, namun juga dituntut untuk mampu membangun hubungan yang efektif dengan siswa dan komunitas sekolah, menggunakan teknologi untuk mendukung peningkatan mutu pengajaran, serta melakukan refleksi dan perbaikan praktek pembelajarannya secara terus menerus Darling dalam (Dwi Esti Andrianai, 2010).

Seiring perubahan demografi, siswa-siswa di sekolah lebih beragam secara budaya, agama/ keyakinan, dan juga bahasanya. Kemajuan teknologi informasi-intenet- telah meningkatkan fleksibelitas dalam pemerolehan ilmu pengetahuan bagi setiap individu baik guru ataupun siswa. Konsekuensinya, guru-guru dituntut mampu mengembangkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesui dengan perkembangan lingkungan. Ilmu pengetahuan tidak lagi terbatas milik para ‘ahli’ atau guru. Selain itu, tersedia informasi yang melimpah tentang pendidikan. Kondisi ini meningkatkan altenatif pilihan pendidikan bagi orang tua dan masyarakat dan bersamaan dengan hal ini adalah peningkatan tuntutan mutu pendidikan oleh masyarakat (Dwi Esti Andrianai, 2010).

Simpulan

Mengoptimalkan Peran guru dalam proses pembelajaran di abad 21 ini merupakan hal yang sangat penting dari hal tersebut dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pembelajaran menunjuk pada usaha siswa dalam mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat perlakuan guru. Guru yang baik berusaha sedapat mungkin agar pembelajarannya berhasil. Salah satu faktor yang bisa membawa keberhasilan itu diantaranya adalah bahwa sebelum masuk ke dalam kelas, guru senantiasa membuat perencanaan pembelajaran sebelumnya.
  2. Peranan guru adalah sebagai pengorganisasi lingkungan belajar dan sekaligus sebagai fasilitator belajar yang meliputi, Guru sebagai sumber belajar, Guru sebagai sebagai pengelola, Guru sebagai demonstrator, Guru sebagai pembimbing, dan Guru sebagai motivator peserta didik dalam proses pembelajaran.
  3. Di abad 21, pekerjaan guru merupakan pekerjaan yang kompleks dan tidak mudah seiring dengan perubahan besar dan cepat pada lingkungan sekolah yang didorong oleh kemajuan ilmu dan teknologi, perubahan demograsi, globalisasi dan lingkungan. Untuk itu guru dituntut agar mampu mengoptimalkan perannya bukan hanya sekedar mampu mengajar dengan baik melainkan guru yang mampu menjadi pembelajar dan agen perubahan sekolah, dan juga melek teknologi informasi.

Daftar Pustaka

Andriani, Dwi Esti. 2010. Mengembangkan Profesionalitas Guru Abad 21. Manajemen Pendidikan. Vol. 5. No.2. (diakses 21 Juli 2018).

Mudri, M. Walid. 2010. Kompetensi dan Peran Guru dalam Pembelajaran. Jurnal Falasifa. Vol. 1 No.1. (diakses 20 Juli 2018).

Safitri, Dyah Putri,, Khaerudin,. Ariani, Diana. 2018. Evaluasi Kompetensi Pedagogik Guru Pasca Pelatihan Guru Pembelajar Moda Daring. Jurnal Pembelajran Inovatif. Vol.1. No. 33-38.(diakses 21 Juli 2018).

Sanjaya, Wina. 2014. Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group. Cet. XI.

Zein, Muh. 2016. Peran Guru dalam Pengembangan Pembelajaran. Jurnal Nasional. Vol.5, No.2. (diakses 20 Juli 2018).

News Feed