by

Kontekstualisasi Fi Sabilillah pada Ayat 60 Surat At Taubah

Kontekstualisasi Makna Fi Sabilillah Pada Ayat 60 Surat At Taubah

Oleh: Masyhari

(Dosen Ilmu Fikih Prodi PAI STAI Cirebon)

Email: masyharie@gmail.com

 

ABSTRAK

Tulisan ini mencoba mengungkap terkait dengan golongan (ashnaf) yang berhak menerima zakat? Bagaimana definisi Fi Sabilillah menurut para ulama salaf? Dan bagaimana kontekstualisasi makna Fi Sabillah dalam era kekinian? Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research), yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data pustaka yang berserakan di literatur hukum Islam, baik klasik maupun kontemporer, yang terkait dengan pembahasan. Sehingga jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif.

Kata Kunci: Kontekstualisasi, Sabilillah, Zakat

 

PENDAHULUAN

Zakat adalah suatu ibadah sosial yang menjadi kewajiban bagi setiap muslim, dan merupakan pilar keislaman seseorang. Sehingga, seseorang tidak dikatakan muslim bila mengingkari kewajiban berzakat. Bahkan, bayi yang baru dilahirkan di dunia ini pun terkena taklif untuk menunaikan ibadah zakat, yaitu zakat fitrah. Ini menunjukkan betapa urgennya ibadah zakat bagi kehidupan umat manusia.

Jika ibadah shalat merupakan ibadah yang bersifat horizontal dan pengaruhnya kurang bisa dirasakan secara langsung oleh kehidupan sosial umat manusia, maka berbeda dengan zakat, dimana dampaknya langsung bisa dirasakan oleh mereka, khususnya bagi para mustahiq. Bagi muzakki, zakat menjadi pembersih atas jiwanya (zakat fitrah) dan hartanya (zakat mal). Karena pada hakikatnya, jiwa dan harta yang dimiliki manusia adalah kepunyaan Allah SWT yang diamanahkan kepada manusia sebagai nikmat dan karunianya yang memang selayaknya dan seharusnya disyukuri, dan zakat adalah bentuk rasa syukur yang nyata atas nikmat-nikmat itu.

Selain itu, zakat juga memiliki fungsi sosial, dimana zakat diharapkan akan bisa mengatasi berbagai persoalan (problem solver) dalam kehidupan manusia, seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, pengangguran, kebodohan, keterbelakangan intelektual, stagnasi ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.

Dari sejumlah nash (Alquran dan Hadis) yang berkaitan dengan zakat, kami melihat ada beberapa pesan yang menuntut adanya perhatian umat Islam secara umum dan para intelektual muslim secara khusus, yaitu:

Pertama, bekerja dan berupaya mencari rizki yang halal dan thoyib (baik) merupakan kewajiban bagi setiap manusia.

Kedua, kewajiban yang utama dalam agama (seperti sholat, zakat, puasa dan haji) tidak boleh dilaksanakan secara parsial dan setengah-setengah. Akan tetapi, semua kewajiban itu harus dilaksanakan secara keseluruhan. Artinya, salah satu tidak bisa berdiri sendiri.

Ketiga, bahwa terkait dengan ayat tentang ashnaf mustahiq zakat, sejumlah para ulama tafsir salaf, memiliki interpretasi yang cenderung mengarah pada konteks zaman mereka hidup. Sehingga, seperti dalam memaknai sabilillah akan berarti orang yang berjihad di jalan Allah SWT dan itu adalah perang. Yang mana tentu, pada zaman modern ini perlu adanya kontekstualisasi atau reinterpretasi (pemaknaan ulang) atas golongan tersebut. Sebab permasalahan kontemporer jauh lebih komplek daripada problem masa lalu. Sehingga, Islam akan bisa menjadi solusi bagi problematika umat manusia segala zaman, lintas generasi dan dimanapun mereka berada.

Tulisan ini akan mencoba mengungkap siapa saja yang berhak menerima zakat? Bagaimana definisi Fi Sabilillah menurut para ulama salaf? Dan bagaimana kontekstualisasi makna Fi Sabillah dalam era kekinian?

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research), yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data pustaka yang berserakan yang terkait dengan pembahasan. Sehingga jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif.

 

DEFINISI ZAKAT

Zakat menurut etimologi (bahasa) adalah suci, tumbuh berkembang (an numuw) dan berkah. Sedangkan menurut terminologi (istilah), zakat adalah kadar harta tertentu yang diberikan kepada yang berhak menerimanya, dengan syarat tertentu.

Seseorang yang mengeluarkan zakat, berarti dia telah membersihkan diri, jiwa dan hartanya. Dia telah membersihkan jiwanya dari penyakit kikir (bukhl) dan mebersihkan hartanya dari hak orang lain yang terdapat dalam hartanya itu. Orang yang berhak menerimanya pun akan bersih jiwanya dari penyakit hasad (dengki dan iri hati) terhadap orang yang mempunyai harta.[1]

Dilihat dari satu segi, bila seorang mengeluarkan zakat berarti hartanya berkurang. Akan tetapi bila dilihat dari sudut pandangan Islam, bahwa pahala bertambah dan harta yang masih ada juga membawa berkah karena mendapat ridha dari Allah SWT dan berkah panjatan doa dari fakir, miskin dan para mustahiq lainya yang mersa disantuni dari hasil zakat itu.[2]

Zakat ibarat benteng yang melindungi harta dari penyakit iri hati, dan ibarat pupuk yang dapat menyuburkan harta untuk tumbuh dan berkembang. Hubungan seorang hamba dengan Allah SWT telah terjalin dengan ibadah sholat, sedangkan relasi sesama umat manusia dapat diikat erat dengan infaq dan zakat. Hubungan ke atas dipelihara, sebagai tanda syukur dan berterima kasih, dan hubungan sesama dijaga sebagai tanda setia kawan, berbagi rahmat dan nikmat.[3]

Alquran menggunakan beberapa termonologi untuk arti zakat yaitu: [4]

  1. Suci atau mensucikan. Yaitu firman Allah SWT, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.[5]

Ayat ini menjelaskan bahwa zakat yang diberikan akan menjadi pembersih dan penyuci bagi orang yang menunaikannya.

  1. Berkembang  (berlipat ganda)

Allah SWT berfirman, “Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan pada harta manusia, dengan tujuan agar bertambah hartamu. Maka miba itu tidak bertambah di sisi Allah. Sedangkan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).[6]

Ayat ini menjelaskan bahwa zakat yang dikeluarkan akan berlipat ganda. Karena Allah SWTlah yang akan melimpat gandakan pahala. Pahala dari zakat yang ditunaikan tentu akan menjadi milik kita, sedangkan harta yang masih ada belum tentu sepenuhnya akan menjadi milik kita, entah sebab ditimpa bencana, maupun sebab–sebab yang lainnya. Dengan kata lain, bahwa apa yang sudah kita infaqkan itulah sebenarnya yang akan menjadi milik kita yang hakiki dan menjadi bekal kita di akhirat, yang akan menemani kita di saat tiada yang dapat menolong kecuali pertolongan-Nya, perantara amal baik, sedangkan yang selebihnya belum tentu.

Oleh sebab demikian, perintah itu dipertegas oleh Allah SWT dengan firman-Nya, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'(shalat)lah beserta orang-orang yang shalat.”[7]

ASHNAF MUSTAHIQ ZAKAT

Ashnaf mustahiq zakat atau golongan yang berhak menerima zakat pada awal sejarah pertumbuhan Islam di Mekah hanyalah orang fakir-miskin saja. Setelah tahun ke-9 Hijriyah Allah SWT menurunkan ayat 60 surat at Taubah di Madinah, dimana ayat tersebut menjelaskan secara rinci mengenai orang-orang yang berhak menerima zakat. Ayat yang dimaksud ialah, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

            Dari ayat tersebut bisa disimpulkan bahwa yang berhak menerima zakat ada delapan golongan, sebagai berikut:

  1. Fakir, yaitu orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
  2. Miskin, yaitu orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan serba kekurangan
  3. Amil atau petugas zakat, yaitu orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat
  4. Muallaf, yaitu orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah dan orang kafir yang diharapkan masuk Islam
  5. Riqab (memerdekakan budak), yang mencakup juga untuk melepaskan kaum muslim yang ditawan oleh orang-orang
  6. Gharim (orang berhutang), yaitu orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya.
  7. Fi Sabilillah (yang berjuang di jalan Allah),  yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin.
  8. Ibnu As Sabil, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kekurangan dalam perjalanannya.

DEFINISI FI SABILILLAH

Sabilillah dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran, kata sabilillah disebut krang lebih 66 kali. Dari sekian jumlah itu terkadang dikaitkan khusus dengan qital (berperang), berinfak, jihad, hijrah, dan seringkali dikaitkan pada hal-hal yang umum, sehingga memiliki arti yang lebih umum dan universal. Meskipun sering dikaitkan dengan tema-tema pembahasan khusus tersebut, akan tetapi secara keseluruhan, kata sabilillah memang memiliki arti yang sangat umum, yaitu di “jalan Allah”, dan ini mencakup segala bentuk amal baik, jika direnungkan lebih mendalam, kata sabilillah lebih mengena pada unsur niat atau maksud. Sehingga, menurut pembacaan kami, dalam kaca mata Islam, suatu amal dikatakan shalih atau tidak, tergantung pada niat yang mendasarinya. Ini dikuatkan oleh sabda Nabi SAW:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

Artinya, “Sesungguhnya perbuatan itu tergantung dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” [8]

Kata sabilillah yang dikaitkan dengan qital (perang) di antaranya terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 190, 244, 246, Ali Imron ayat 13, dsb. Sabagai contoh saya sebutkan beberapa ayatnya, yaitu:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya, “dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”[9]

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya, “dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”[10]

Sedangkan sabilillah yang dikaitkan dengan infaq (membelanjakan harta) di antaranya:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya, “dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”[11]

Sedangkan yang dikaitkan dengan jihad (bersungguh-sungguh) dan berhijrah (eksodus) di antaranya yaitu:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[12]

ANALISIS BAHASA

Untuk melakukan analisis bahasa, kami akan mengkajinya kata perkata dengan pendekatan linguistik, yang mana terdiri dari tiga kata, yaitu fi, sabil dan Allah. Kemudian mendefinisikannya secara tersusun (tarkib).

  1. fi” (فِيْ), merupakan bentuk kata preposisi dalam bahas Arab (kalimah harf jar). Dalam kajian semantik Arab ia memiliki tujuh (7) arti, sebagaimana disebutkan oleh Musthafa Al-Ghalayini,[13] di antaranya yaitu:
  • Dzarfiyyah (kata keterangan), baik hakikat ataupun kiasan. Keterangan hakikat terbagi menjadi dua: keterangan waktu dan tempat. Contoh: Keterangan tempat: الماء في الكوب  (Air di dalam gelas). Keterangan waktu: سرت في النهار  (Aku berjalan pada siang hari), dan keterangan kiasan, seperti firman Allah: لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة Artinya, “Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik.”[14]
  • Sababiyyah (sebab dan alasan), sebagaimana dalam Hadis Nabi SAW:

دخلت مرأة النار في هرة حبستها

Artinya, “Seorang wanita masuk neraka karena kucing yang ditahannya.”

  • Maiyyah (bersama)

قال ادخلوا في أمم قد خلت من قبلكم

Artinya, “Allah berfirman: “Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu.

  • Muqayasah (Perbandingan). Allah swt berfirman:

فما متاع الحياة الدنيا في الآخرة إلا قليل

Artinya, “Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”

  • Searti dengan “ba’” yang berarti “melekat”.
  • Semakna dengan “ila” (ke), seperti firman Allah SWT:

فردوا أيديهم في أفواههم

Artinya, “lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian).”[15]

Adapun terkait makna في yang dimaksud dalam kata “fi sabilillah” khususnya dalam surat At Taubah ayat 60, ada beberapa kemungkinan yaitu:  zharfiyyah, dan yang dimaksud bisa jadi keterangan tempat. Karena disandarkan pada kata benda yang berarti tempat “sabil” (jalan), dimana mengkira-kirakan kata jihad atau mujahidun.[16] Namun, kemungkinan ini terbantahkan karena kata “sabil”  di sini bukanlah berarti hakikat, melainkan kiasan, dan terkait kata “sabil” lebih detail akan kami bahas pada tempatnya. Sehingga fi di sini diartikan zharfiyyah majaziyyah (keterangan kiasan). Dan bisa juga diartikan sababiyyah (alasan, tujuan), yang berati “karena” atau “untuk”.[17]

  1. Sabilillah

Terdiri dari kata sabil (سبيل) dan Allah (الله). Kata sabil, secara leksial bahasa Indonesia diterjemahkan “jalan” atau “cara”.[18] Dalam Lisan Al-Arab, Ibnu Manzhur menyebutkan bahwa sabil sinonim dari kata thariq, yang juga berarti suatu jalan yang jelas.  Kata sabil seringkali diidentikkan dengan kata jihad, karena jalan yang dipakai berjihad adalah untuk mengikatkan agama Allah.

Sedangkan kata Allah adalah Tuhan seluruh umat manusia. Al-Khalil berkata, bahwa kata الله merupakan ism alam dari nama Allah SWT yang tidak boleh diisytiqaqkan (disarikan atau dicarikan asalnya) dari fi’il. Berbeda dengan Al-Mundziri yang meriwayatkan dari Al-haitsam yang mengatakan bahwa kata الله berasal dari kata  إلاهyang berarti معبود (yang disembah).[19]

 Sedangkkan idhafah (penyandaran) kata sabil dengan kata Allah yaitu milkiyyah (kepemilikan) yang berarti “jalan yang dimiliki Allah”. Dalam Lisan Al-Arab disebutkan bahwa yang dimaksud dengan sabilillah yaitu orang yang ingin berperang namun tidak memiliki bekal harta yang bisa dipakai untuk berperang, sehingga dia berhak mendapatkan bagian zakat. Dan setiap jalan yang kebaikan yang diniatkan untuk Allah SWT adalah sabilillah. Menurut Ibnu Al-Atsir, kata sabilillah itu umum, artinya berlaku bagi setiap amal perbuatan yang ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menjalankan kewajiban, anjuran dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Meskipun pada praktik penggunaan setelahnya mengalami penyempitan makna, sehingga sering dikonotasikan sebagai jihad. Padahal arti sabilillah sebenarnya sangatlah luas.[20]

 

MAKNA FI SABILILLAH DALAM KONTEKS AYAT 60 SURAT AT TAUBAH

Di sini akan kami kemukakan sejumlah pendapat ulama ahli tafsir generasi as-salaf as-shalih (klasik), mulai dari keterangan dari Nabi SAW sendiri, dari kalangan sahabat, tabi’in dan seterusnya, hingga sebelum era modern.

Terkait arti fi sabilillah, Imam Muqatil[21] berkata, “Yaitu dalam jihad. Diberikan berdasarkan usaha yang dilakukannya dalam peperangan.”

Al-Imam Al-Maturidi[22] mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mereka para pejuang di medan perang, dan bisa juga berarti “dalam ketaatan kepada Allah”, artinya setiap orang yang berusaha dalam rangka ketaatan dan menuju kebaikan dapat dikategorikan fi sabilillah.[23]

Dalam Tafsir Al-Quran Al-Adzim disebutkan: “Sedangkan yang dimaksud Sabilillah yaitu di antaranya para pejuang di medan perang yang tidak memiliki hak dalam dewan. Menurut Imam Ahmad, Al-Hasan dan Ishak, haji termasuk sabilillah, berdasarkan Hadis.”[24] Ibnu Katsir menyebutkan sejumlah dalil, di antaranya yaitu Hadis Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah, dari Abu Said Al-Khudri, berkata, Rasulullah SAW bersabda:

لا تحل الصدقة لغنيّ إلا لخمسة: العامل عليها، أو رجل اشتراها بماله، أو غارم، أو غاز في سبيل الله، أو مسكين تصدق عليه منها فأهدى لغني

Artinya, “Sedekah itu tidak halal bagi orang kaya, kecuali karena lima hal, “amil (pengelola), seseoarang yang membeli dengan hartanya, gharim, pejuang di jalan Allah di medan perang, atau seorang miskin yang mendapatkan sedekah kemudian menghadiahkannya kepada yang kaya.”[25]  

Izzuddin bin Abdus Salam (wafat. 660 H) berkata, “Yaitu para pejuang, baik yang fakir ataupun yang kaya.”[26]

Dalam tafsir Al-Bahrul Al-Muhith disebutkan bahwa yang dimaksud adalah seorang yang berjihad. Dia mendapatkan bagian karena fakir. Selanjutnya diamengutip pendapat mayoritas Ulama bahwa mujahid diberikan bagian meskipun kaya. Dia diberi sebagai bekal dalam peperangan. Asy Syafi’i, Ahmad, Isa bin Dinar dan segolongan ulama mengatakan, bahwa seorang pejuang yang kaya tidak diberi kecuali jika dia membutuhkannya dalam peperangan. Sedangkan pendapat Abu Hanifah dan dua sahabatnya, bahwa seorang mujahid tidak diberi kecuali jika membutuhkannya (fakir), meskipun nantinya tidak dipergunakan dalam peperangan. Ibnu Abdul Hakam mengatakan bahwa zakat bisa dibelanjakan untuk pengadaan senjata dan segala kebutuhan peperangan, seperti peralatan perang dan untuk menghalau musuh, akrena semua itu dalam rangka kebutuhan perang.[27]

Menurut mayoritas Ulama, boleh mendistribusikan zakat untuk para jamaah haji dan umroh, meskipun mereka kaya.

Sedangkan menurut Az Zamakhsyari (wafat 538 H), “Mereka adalah para pejuang yang fakir, dan jamaah haji yang kehabisan bekal.” Namun pendapat ini dibantah oleh Abu Hayyan (wafat 745 H), dimana menurutnya, pemahaman semacam itu rancu, sebab penyebutan delapan golongan tersebut tentu karena memang berbeda. Sehingga adanya pensyaratan sifat fakir pada pejuang atau jamaah haji untuk memperoleh bagian zakat, maka tidak perlu disebutkan khusus sebagai golongan tersendiri, sebab sudah termasuk dalam keumuman kata fakir. Akan tetapi, yang benar adalah bahwa setiap golongan berhak mendapatkan bagian, walau apapun keadaannya, baik fakir ataupun kaya.[28]

Ibnu Athiyyah (wafat 542 H) mengatakan bahwa zakat tidak boleh dipergunakan untuk pembangunan masjid, jembatan ataupun untuk membeli Mushaf Al-Quran.[29]

Dari sejumlah pendapat para ahli tafsir bisa disimpulkan, bahwa yang dimaksud sabilillah memiliki bebera pengertian, yaitu (1) jihad (berperang di jalan Allah dan segala keperluan perang, (2) haji dan umroh, dan (3) segala amal shalih yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

 

KONTEKSTUALISASI MAKNA FI SABILILLAH

Telah disebutkan sebelumnya definisi golongan ketujuh dalam ayat distribusi zakat, “Dan di jalan Allah.” serta pandangan para ahli tafsir klasik terkait mereka, yang bisa diringkasnya sebagai berikut:

Pertama, makna asal sabilillah secara bahasa yaitu setiap amal yang ikhlas yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, yang meliputi segala ,amal shalih, baik dilakukan oleh pribadi ataupun massal.

Kedua, kata tersebut telah mengalami penyempitan makna. Sehingga bila diucapkan kata sabilillah, selalu dikonotasikan pada makna jihad saja.[30]

Syariah Islam adalah syariat yang sempurna, dan dapat berlaku dan diterapkan dimana dan kapan saja (shalih li kulli zaman wa makan). Ia dapat menjawab problematika segala zaman. Sebab Islam itu datang sebagai solusi atas segala permasalahan. Karena itu, sejumlah ulama ushul fikih melihat bahwa syariah Islam memiliki prinsip-prinsip yang mendasarinya (maqashid syariah), dimana ia ditetapkan untuk kemaslahatan (kebaikan) manusia di dunia dan di akhirat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT yang artinya, “Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.[31]

Kemaslahatan yang dimaksud adakalanya bersifat darurat (primer), hajiyat (sekunder) dan tahsiniyat (tersier). Yang dimaksud dengan darurat di sini adalah, bahwa kemaslahatan dunia dan akhirat tidak dapat ditegakkan melainkan dengan ditegakkannya. Kemaslahatan yang dimaksud terangkum dalam lima hal, yaitu (1) menjaga agama (hifzh al diin), (2) menjaga jiwa (hifzh an nafs), (3) menjaga keturunan (hifzh an nasl), (4), menjaga harta (hifzh al-mal) dan (5) menjaga akal (hifzh al-‘aql).[32]

Bila mengacu pada praktik kongkret pada zaman Nabi, kitab-kitab fikih dan para ulama klasik, kebanyakan mengartikan sabilillah sebagai tentara yang berperang di medan peperangan melawan orang-orang kafir, dan pengertian ini memang tidaklah salah, akan tetapi tidak mengakomodir pengertian yang menyeluruh. Bertahan pada pengertian secara harfiah semacam ini akan mereduksi keluasan makna yang sebenarnya.[33]

Sebenarnya, pandangan untuk mengembalikan makna sabilillah secara lebih luas telah ada pada era klasik. Mereka berpandangan bahwa sabilillah meliputi segala bentuk amal shalih, sebagaimana makna asalnya. Di antara mereka yaitu:

  1. Abu Manshur Al-Maturidi. Sebagaimana disebutkan sebelumnya (pada hal. 10), dalam tafsirnya beliau mengatakan bahwa ada yang berpandangan bahwa sabilillah berarti mereka para pejuang di medan perang. Namun menurutnya, sabilillah bisa juga berarti “dalam ketaatan kepada Allah”, artinya setiap orang yang berusaha dalam rangka ketaatan dan menuju kebaikan dapat dikategorikan fi sabilillah.
  2. Al-Qaffal. Beliau menukil dalam tafsirnya pendapat sebagian ahli fikih yang memperbolehkan pendistribusian zakat untuk segala bentuk amal baik, seperti megkafani mayit, membangun benteng dan meramaikan masjid. Karena kata sabilillah umum, mencakup semuanya itu.”[34]
  3. Mazhab Imamiyyah Ja’fariyyah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Mazhab Ja’fariyah, bahwa yang dimaksud adalah setiap ibadah atau maslahat, sepertihalnya haji, jihad, dan membangun jembatan. Ada yang mengkhususkannya pada jihad saja.”[35]
  4. Mazhab Zaidiyyah. Dalam kitab “Al-Bahr” dan “Ar Raudhah” disebutkan bahwa secara zhahir, kata sabilillah adalah umum, kecuali ada dalil yang mengkhususkan.”[36]
  5. Sayyid Shiddiq Khan. Dalam kitabnya “Ar Raudhah An Nadiyyah”, beliau mengatakan bahwa yang dimaksud adalah jalan menuju Allah SWT. Sedangkan jihad, meskipun jalan yang utama menuju Allah SWT, namun tidak ada dalil yang mengkhususkan distribusi zakat kepada mereka. Akan tetapi bisa didistribusikan untuk segala jalan yang ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan di antara golongan sabilillah yaitu para ulama yang berperan dalam kemasalahatan kaum muslimin bidang agama. Maka mereka berhak memperoleh bagian dari harta Allah. Bahkan pendistribusian zakat kepada mereka merupakan hal yang sangat penting. Sebab para ulama adalah pewaris para Nabi, tanpa melihat mereka miskin atau kaya.[37]

Adapun ulama kontemporer yang memperluas makna sabilillah di antaranya yaitu Syekh Jamaluddin Al-Qasimi, Syekh Rasyid Ridha, Syekh Mahmud Syaltut dan Syekh Makhluf.[38]

Sedangkan di antara ulama Nusantara era kini yaitu KH. Masdar Farid Mas’udi (MFM).[39] Menurut MFM, definisi sabilillah harus dilihat dari sisi positif, yakni menegakkan “jalan Allah” itu sendiri, yang jauh lebih luas namun kurang diperhatikan, paling tidak dalam konteks perzakatan. Menurutnya, kata “Allah” dalam konteks perzakatan tiada lain adalah konteks kehidupan manusia dalam dimensi sosialnya. Berbeda dengan “Allah” dalam dimensi kehidupan manusia yang personal, yang merujuk pada “Zat Yang Esa”. Dalam dimensi sosial kehidupan manusia, Tuhan Adalah cita kebaikan-kebaikan-Nya yang universal, yang mengatasi batas kepercayaan, suku, ras, bahasa dan sebagainya yang bersifat formal. Perinciannya bisa bermacam-macam, namun pangkalnya adalah “kemaslahatan” (kesejahteraan dan keadilan hidup) bersama.[40]

Masih menurut MFM, dana zakat untuk sektor sabilillah dapat didistibusikan dan dialokasikan untuk kebutuhan sebagai berikut:

  • Penyelenggaraan sistem pemerintahan yang berbasis pada kepentingan rakyat (baik legislatif ataupun eksekutif).
  • Perlindungan keamanan warga negara
  • Penegakan keadilan hukum bagi warga negara (yudikatif), termasuk gaji aparat penegak hukum.
  • Pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana umum, yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
  • Peningkatan SDM dalam rangka membangun peradaban, ilmu dan teknologi.
  • Usaha lain yang bertujuan untuk mewujudkan cita keadilan sosial dan kesejahteraan umat manusia.[41]

 

PENUTUP DAN KESIMPULAN

Telah dipaparkan pembahasan tentang definisi sabilillah, baik dengan pendekatan linguistic (kebahasaan), serta pandangan para ulama klasik. Dimana secara ringkas terbagi pada dua pendapat, yaitu khusus (sempit) dan umum (luas). Yang dimaksud dengan khusus adalah pemaknaan sabilillah yang sempit pada jihad saja. Sedangkan yang umum, maksudnya adalah pengembalian makna sabilillah pada makna yang lebih luas, sebagaimana asal bahasa diletakkan, yaitu segala amal baik dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt.

Kami mengambil kesimpulan, bahwa sangat diperlukan adanya kontekstualisasi makna sabilillah, dalam rangka untuk mengembalikan makna asalnya yang lebih umum dan luas, dimana pengertian asalnya ini sebelumnya telah “terampas” oleh kebutuhan zaman dahulu. Yang pada dasarnya, penyempitan makna tersebut hanya merupakan jawaban atas zaman itu. Adapun problem dan konteks zaman telah berubah, dan demi tercapainya kemaslahatan, serta dalam rangka menjawab problematika umat manusia setiap kekinian, maka diperlukan adanya perluasan makna dari sabilillah. Wallahu a’lam bish Shawab.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan terjemahannya

Abu Hayyan, Al-Bahr Al-Muhith, http://www.altafsir.com

Ali Hasan, Muhammad, Masail Fiqihiyyah; Zakat, Pajak, Asuransi dan lembaga keuangan, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2003

Ali, Atabik dan A. Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Krapyak, Yogyakarta, Multi Karya Grafika, 2003

Al-Fakh Ar Razi, Mafatih Al-Ghaib, http://www.altafsir.com

Al-Izz bin Abdus Salam, Tafsir Ibnu Abdi As Salam, http://www.altafsir.com

Al-Mukhtashar An Nafi’, Kairo, Daar Al-Kutub Al-Arabi

Al-Mawardi, An Nukat Wa al-Uyun,  Sumber: www.altafsir.com

Al-Tafsir al-Muyassar, http://www.Qurancomplex.com

Al-Maturidi, Abu Manshur, Takwilat Ahl As Sunnah, Beirut, Daar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2005

Al-Ghalayini, Musthafa, Jamiu Al-Durus Al-Arabiyyah, Kairo, Daar Ibn Al-Jauzi, 2009

Al-Qaradhawi, Yusuf, Fiqh Az Zakat, Muassasah Ar Risalah, 1973

Asy Syathibi, Abu Ishak, Al-Muwafaqat, Kairo, Al-Maktabah Al-Taufiqiyyah

Az Zirikly, Khairuddin, Al-A’lam,  Beirut, Daar Al-Ilmi Lil Malayiin, 1980

Ibnu Al-Manzhur, Muhammad, Lisanu Al-Arab, Beirut, Daar Shadir

Ibnu Katsir, Abu Al-Fida’, Tafsir Al-Qura’an AlAzhim, Daar Thaibah, 1999 M/ 1420 H

Ibnu Athiyyah, Abu Muhammad, Al-Muharrar Al-Wajiz, http://www.altafsir.com

Lajnah Min Ulama Al-Azhar, Tafsir AlMuntakhab

Masudi, Masdar Farid, Menggagas Ulang Zakat, Bandung, Mizan Media Utama, 2005

Muqatil, Tafsir Muqatil, http://www.altafsir.com

Ritonga, Rahman dan Zaenuddin, Fikih Ibadah, Jakarta, Gaya Media Pratama, 2002

 

CATATAN AKHIR

[1] M. Ali Hasan, Masail Fiqihiyyah; Zakat, Pajak, Asuransi dan lembaga keuangan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 1

[2] M. Ali Hasan, Masail Fiqihiyyah; Zakat, Pajak, Asuransi dan lembaga keuangan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 2

[3] M. Ali Hasan, Masail Fiqihiyyah; Zakat, Pajak, Asuransi dan lembaga keuangan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 2

[4] Rahman Ritonga dan Zaenuddin, Fikih Ibadah (Jakarta: Gaya media pratama, 2002), hal. 172

[5] QS At Taubah: 106

[6] QS Ar Ruum: 39

[7] QS Al-Baqarah: 43

[8] HR Al-Bukhari, diceritakan dari Umar bin Khattab

[9] QS Al-Baqarah [2]: 190

[10] QS Al-Baqarah [2]: 244

[11] QS Al-Baqarah [2]: 195

[12] QS Al-Baqarah [2]: 218

[13] Musthafa Al-Ghalayini, Jamiu Al-Durus Al-Arabiyyah (Kairo: Daar Ibn Al-Jauzi, 2009), hal. 556-557.

[14] QS Al-Ahzab: 21

[15] QS Ibrahim: 9

[16] Lihat: Al-Mawardi, An Nukat Wa al-Uyun,  Al-Muntakhab, Sumber: www.altafsir.com dan Al-Tafsir al-Muyassar, WWW.Qurancomplex.com

[17] Kami belum menemukan pendapat para ulama (khususnya ahli tafsir) terkait arti fi dalam kata fi sabilillah. Wallahu a’lam. Lihat: Kamus Kontemporer Krapyak, Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlor (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 2003), hal. 1412-1413.

[18] Kamus Kontemporer Krapyak, Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlor (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 2003), hal. 1046.

[19] Ibnu Al-Manzhur, Lisanu Al-Arab, (Beirut; Daar Shadir), dalam kata أله

[20] Ibnu Al-Manzhur, Lisanu Al-Arab, (Beirut; Daar Shadir), juz 11, hal. 319, kata سبل

[21] Muqatil bin Sulaiman, berasal dari Balkh, kemudian pindah ke Basrah dan kemudian ke Baghdad. wafat di Baghdad, tahun 150 H/ 767 M. Seorang ulama tafsir Abad 2 H. Namun dalam bidang hadits dianggap matruk. Karyanya diantaranya: Al-Tafsir Al-Kabir, Nawadir At Tafsir, dsb.

[22] Muhammad bin Muhammad bin Mahmud, Abu Manshur Al-Maturidi, seorang imam ahli kalam. Berasal dari Maturid, Samarkand. Diantara karyanya yaitu At Tauhid, Auham Al-Mu’tazilah, Ar Radd Ala Al-Qaramithah, Ma’akhidz Syara’i’ dalam Ushul Fiqh, Takwilat Al-Quran, dsb. (Al-A’lam, Az Zirikly)

[23] Al-Maturidi, Takwilat Ahl As Sunnah (Beirut; Daar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 2005), juz 5, hal. 409-410

[24] Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qura’anil Azhim, (Daar Thaibah, 1999 M/ 1420 H), juz 4, hal. 169

[25] Hadits ini diriwayatkan oleh dua Sufyan dari Zaid bin Aslam dari Atha’ dengan derajat mursal. (ibid, juz 4, hal. 169

[26] Abdul Aziz, Al-Izz bin Abdus Salam, Tafsir Ibnu Abdi As Salam, http://www.altafsir.com, juz 2, hal. 287

[27] Abu Hayyan, Al-Bahr Al-Muhith, hal. 179

[28] Abu Hayyan, Al-Bahr Al-Muhith, hal. 180

[29] Ibnu Athiyyah, Abu Muhammad, Al-Muharrar Al-Wajiz, juz 3, hal. 273

[30] Yusuf Al-Qaradhawi, Fiqh Az Zakat (Muassasah Ar Risalah, 1973 M), juz 2, hal. 635.

[31] QS Al-Anbiya [21]: 107

[32] Abu Ishak Asy Syathibi, Al-Muwafaqat (Kairo: Al-Maktabah Al-Taufiqiyyah), juz 2, hal. 4.

[33] Masdar Farid Masudi, Menggagas Ulang Zakat (Bandung: Mizan Media Utama, 2005), hal. 124.

[34] Al-Fakh Ar Razi, Mafatih Al-Ghaib

[35] Al-Mukhtashar An nafi’, (Kairo, Daar Al-Kutub Al-Arabi), hal. 59.

[36] Yususf Al-Qaradhawi, Fikih Zakat, juz 2, hal. 647

[37] Yususf Al-Qaradhawi, Fikih Zakat, juz 2, hal. 648

[38] Yususf Al-Qaradhawi, Fikih Zakat, juz 2, hal. 650

[39] Masdar Farid Mas’udi, Menggagas Ulang Zakat, hal. 126

[40] Masdar Farid Mas’udi, Menggagas Ulang Zakat, hal. 126.

[41] Masdar Farid Mas’udi, Menggagas Ulang Zakat, hal. 127

News Feed