by

Keterkaitan Radikalisme Agama dengan Fenomena Hoaks

Keterkaitan Radikalisme Agama dengan Fenomena Hoaks*

Oleh: Ayub Al Ansori**

 

Abstrak

Perbuatan menyebarkan dan mengkonsumsi hoaks tampaknya sudah menjadi “kebiasaan” sebagian masyarakat kita. Fenomena hoaks memiliki pengaruh signifikan akhir-akhir ini di tengah-tengah masyarakat. Hoaks banyak dimanfaatkan oleh golongan aktifis radikalis-fundamentalis untuk menyerang dan menebarkan kebohongan yang bertujuan untuk menyebarkan ideologi mereka dan menakut-nakuti masyarakat. Tulisan ini mencoba memotret dan memaparkan adanya keterkaitan yang cukup kuat antara radikalisme agama dengan fenomena hoaks yang marak belakangan ini.

Kata Kunci: Radikalisme, fundamentalisme, hoaks,

 

Pendahuluan

Indonesia masih memiliki potensi konflik yang cukup tinggi. Beberapa kasus konflik antar umat beragama maupun intern umat beragama salah satunya disebabkan oleh radikalisme agama di dalam tubuh umat beragama. Agama Islam salah satunya masuk dalam fenomena radikalisme agama tersebut. Sebagai umat Islam kita tidak bisa mengelak dengan fenomena sebagian dari kita memiliki pemikiran keras yang menganggap dirinya atau golongannya benar sementara yang lain dianggap salah.

Fenomena radikalisme agama ini salah satunya disinyalir tumbuh subur akibat maraknya kabar bohong atau hoaks dengan begitu terbuka dan mudahnya  arus informasi yang diterima. Beberapa informasi hoaks menyebar berkaitan dengan faktor ideologi agama khususnya Islam, di samping karena faktor politik.

Faktor ideologi ini sangat rentan di masyarakat. Masyarakat dengan mudahnya mengakses internet dan mendapatkan berita hoaks. Tanpa melalui filter terlebih dahulu berita hoaks tersebut dikonsumsi dan menjadi keercayaan bahwa berita tersebut benar.

Tentu tidak mudah memberantas radikalisme Islam melalui fenomena hoaks ini dan memerlukan waktu dan perencanaan yang matang karena berkaitan dengan keyakinan yang sudah terdoktrinasi kuat. Sehingga masalah ini harus menjadi perhatian serius semua orang dan diharapkan menjadi musuh bersama.

 

Radikalisme dalam Tinjauan Konsep

Konsep tentang radikalisme telah banyak diungkapkan oleh para ahli dan  cendekiawan di Indonesia. Radikalisme paham atau aliran yang radikal dalam politik, juga bisa diartikan sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dengan cara kekerasan dan sikap ekstrem.[1]

Radikalisme yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah gerakan-gerakan keagamaan (Islam) radikal yang bercita-cita ingin melakukan perubahan besar dalam politik kenegaraan dengan cara-cara kekerasan. Perubahan dalam politik tersebut dimaksud mengubah bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Negara Islam atau Khilafah.

Istilah radikalisme juga sejalan dengan istilah fundamentalisme jika mengacu pengertian bahasa yang sama-sama memiliki arti dasar atau kaku sehingga cenderung keras dan ekstrim. Secara terminologi fundamentalisme adalah aliran pemikiran keagamaan yang cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara rigid (kaku) dan literalis (tekstual).[2]

Menurut Mahmud Amin al-Alim seperti dikutip Abdurrahman Kasdi, pemikiran fundamentalisme/ radikalisme telah kehilangan relevansinya, karena zaman selalu berubah dan problematika semakin komplek. Perlu reinterpretasi terhadap teks-teks keagamaan dengan mengedepankan ijtihad, membongkar teks-teks yang kaku, dan mengutamakan maslahah serta maqashid al-syari’ah.[3]

Dari segi metodologi pemahaman dan penafsiran teks-teks keagamaan, kaum radikal-fundamentalis mengklaim kebenaran tunggal. Menurut mereka, kebenaran hanya ada di dalam teks dan tidak ada kebenaran di luar teks, bahkan sebetulnya yang dimaksud adalah kebenaran hanya ada pada pemahaman mereka terhadap apa yang dianggap sebagai prinsip-prinsip agama khususnya Islam.

Penting juga diungkapkan di sini sebagai analisa dalam tulisan ini seperti yang dikemukakan oleh Said Al-Ashmawi sebagaimana dikutip oleh Saifuddin mengenai radikalisme dan fundamenlatisme[4] yang membagi gerakan gerakan radikalisme menjadi dua kategori, yaitu fundamentalisme rasional spiritual dan fundamentalisme aktifis politik.

Untuk mengurainya, fundamentalisme rasional spriritual menganggap pentingya menemukan istilah-istilah dalam Al-Quran ketika turunnya wahyu dan berpegang pada pengertiannya dan mencoba mengkaji dasar-dasar yang tersimpan dalam Al-Quran sebagai wahyu. Golongan ini menekankan pada perlunya kembali kepada esensi ciri-ciri Islam yang toleran, penuh kasih sayang, dan menolak ekstremisme.

Sedangkan fundamentalisme aktifis politik memiliki cirri, yaitu pertama, golongan ini mempersempit istilah-istilah yang diambil dari Al-Quran dan memberlakukan pengertian yang sama sekali tidak terdapat di dalam Al-Quran.

Kedua, golongan ini mengabaikan kondisi turunya Al-Quran dan menyimpang dari penafsiran yang dangkal dan melakukan perbuatan yang tidak sama dengan yang diaktakan.[5] Oleh sebab itu, golongan ini sangat membingungkan dan tidak rasional. Golongan inilah yang kemudian dapat dengan udah menyebarkan informasi bohong atau hoaks, lebih jauhnya dapat menjadi gerakan-gerakan ekstrim, militant, dan radikal.

Berdasarkan kategorisasi di atas, maka kategori kedua lah yaitu fundamentalisme/ radikalisme aktifis politik yang cocok dengan konteks tulisan ini. Dengan demikian, para aktifis politik yang radikal/ fundamental lah yang kemudian biasa menyebarkan informasi bohong atau hoaks kepada masyarakat.

 

Problematika Hoaks di Masyarakat

Oxford English Dictionaries mendefinisikan hoax sebagai malicious deception alias kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat.[6] Kata hoax ini telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi hoaks yang artinya berita bohong.[7]

Tahun lalu, kita dihebohkan dengan tertangkapnya kelompok bisnis berita bohong, Saracen. Sindikat maya yang eksis sejak November 2015 itu memproduksi dan menyebarkan hoaks bahkan uajran kebencian berkonten suku, ras, agama, dan antar-golongan (SARA) di media sosial. Tahun ini, 2018, fenomena hoaks tidak kalah hebohnya. Bedanya para pelaku tidak terorganisir, justru bermain sendiri-sendiri, oknumnya mengatasnamakan Muslim Cyber Army (MCI). Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polisi Republik Indonesia (Polri), seperti dikutip Kompas (21/2) membeberkan, periode Januari-Februari, ada 18 orang yang ditangkap karena menyebarkan berita bohong atau hoaks yang meresahkan masyarakat.[8]

Penyebaran hoaks banyak terjadi pada kasus-kasus keagamaan dan politik. Para pembuat dan penyebar hoaks ini memproduksi tulisan-tulisan, foto-foto, dan meme yang berbau agama dan politik. Bentuknya bisa dalam bentuk menyerang kelompok agama yang tidak sepaham dan sepemikiran dengan mereka dengan dibalut isu-isu berbau politik. Fenomena ini sangat berpengaruh di masyarakat. Sehingga masalah ini patut menjadi perhatian bersama dan menjadi musuh bersama.

Anehnya, yang menjadi tersangka pembuat sekaligus penyebar, bahkan korban hoaks ini tidak hanya masyarakat biasa alias awam, tetapi masyarakat yang memiliki latarbelakang pendidikan tinggi. Sehingga adanya informasi hoaks, pada umumnya telah mengubah cara pandang dan sikap beragama lintas usia dengan latar belakang pendidikan tinggi menjadi keras dan kasar.

Dengan begitu, serangan hoaks di masyarakat semakin bermunculan bak jamur di musim hujan, terutama melalui media sosial. Sejarah akan terus berulang, begitu kata orang bijak. Fenomena hoaks ini tentu bukan barang baru.

Bahkan pada zaman keemasan Islam, banyak sekali golongan yang hobinya menyebarkan informasi-informasi palsu alias hoaks. Kita cukup beruntung, ada para Ulama dan Imam yang memiliki hobi sebaliknya yaitu memilah dan meneliti informasi hoaks tersebut. Mereka membuat semacam catatan-catatan klarifikasi atas informasi hoaks tersebut yang kemudian dibukukan. Sehingga informasi-informasi tersebut tidak lantas dikonsumsi mentah. Melalui karya-karya merekalah kita dapat terhindar dari informasi hoaks masa lalu.

Begitu pun masyarakat Indonesia hari ini, perlu belajar pada masa lalu. Sehingga masalah hoaks yang terlanjut merebak di mana-mana dapat diminimalisir. Jangan sampai hanya karena hoaks tersebut diberi embel-embel agama lantas masyarakat menganggapnya benar.

 

Keterkaitan Radikalisme Agama dengan Hoaks

Melihat fenomena di atas, hoaks memiliki pengaruh signifikan akhir-akhir ini di tengah-tengah masyarakat. Perbuatan menyebarkan dan mengkonsumsi hoaks sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita. Sehingga sangat dimanfaatkan betul oleh golongan aktifis radikalis-fundamentalis untuk menyerang dan menebarkan kebohongan yang bertujuan untuk menyebarkan ideologi mereka dan menakut-nakuti masyarakat. Hal ini seperti yang dilakukan kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) dan kelompok radikal lainnya untuk menyebarkan pengaruh mereka di Indonesia.

Menurut Raphael Cohen Almagor sebagaimana dikutip Yanti Dwi Astuti, hoaks ini dapat dibentuk dalam berbagai hal, seperti: ide palsu (false idea), prinsip yang bertentangan (offence principle), manipulasi media (media manipulateion), keseimbangan (balancing), objektifitas (objectivity), dan melawan netralitas moral (against moral neutrality).[9]

Ide palsu dapat kita buktikan dengan merebaknya ideologisasi keagamaan yang tidak sesuai dengan teks keagamaan sekalipun. Seperti yang dilakukan kelompok ISIS. Mereka membuat hoaks dengan menjanjikan kehidupan yang lebih baik di dunia dan menjamin kehidupan akhirat melalui video-video dan gambar yang dapat dilihat dengan mudah oleh masyarakat. Selain itu, banyak ujaran-ujaran kebencian yang mengutip ayat-ayat Al Quran agar mesyarakat saling membenci satu sama lainnya, antar agama bahkan intern-agama.

Prinsip yang bertentangan, dapat kita lihat dari kasus Penistaan Agama. Bagaimanapun kasus penistaan agama ini banyak sedikitnya telah mengubah wajah masyarakat Indonesia, khususnya yang beragama Islam menjadi garang dan mudah marah. Realitasnya, penistaan agama oleh salah seorang Gubernur di Indonesia ini bukanlah hoaks, namun dengan adanya oknum yang memotong penggalan video pidato Gubernur tersebut merupakan bentuk daripada hoaks yang disebarkan melalui media social, sehingga masyarakat khususnya umat Islam menjadi terpecah belah.

Manipulasi media, dapat dilihat dengan maraknya pemberitaan yang menampilkan tulisan-tulisan baik berupa berita, artikel, dan opini menyesatkan. Dalam kasus serangan bom bunuh diri di Surabaya, sudah jelas siapa pelaku dan pihak kepolisian telah merilis bahwa itu serangan kelompok islam radikal. Namun ada sebagian masyarakat justru mengatakan bahwa serangan bom bunuh diri tersebut merupakan konspirasi. Term konspirasi ini lantas dibuat sedemikian rupa melalui informasi-informasi hoaks di berbagai media milik mereka sehingga mudah diakses oleh masyarakat. Sungguh manipulasi media ini sangat signifikan pengaruhnya di masyarakat.

Kaitannya dengan radikalisme agama, ketiga bentuk hoaks dari enam bentuk di atas tadi yaitu ide palsu, prinsip yang bertentangan, dan manipulasi media, dengan mudah diproduksi untuk menyampaikan dan menyebarkan hoaks.

Jika radikalisme agama yang dibalut hoaks dengan mudahnya menyebar, menjangkiti, dan diterima oleh masyarakat Indonesia, ini sudah menjadi masalah yang serius dan harus segera ditangani.

 

Upaya Menangkal Hoaks        

Lantas bagaimana upaya kita dalam menangkal radikalisme agama yang disebabkan fenomena hoaks tersebut? Penulis menawarkan beberapa upaya untuk dilakukan, di antaranya sebagai berikut:

Pertama, tabayyun atas berita atau informasi yang kita peroleh. Dalam Al-Quran surat Al-Hujurat, Allah SWT telah mengingatkan kita tentang pentingnya tabayyun (klarifikasi).

“Hai orang-orang yang beriman, jika dating kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”.[10]

Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan, ayat ini merupakan salah satu ketetapan agama dalam kehidupan social yaitu adab yang harus diperhatikan orang-orang yang berakal. Kehidupan manusia dan interaksinya harus didasarkan pada hal-hal yang diketahui dan jelas.[11]

Karena itu, manusia membutuhkan pihak lain yang jujur dan berintegritas untuk menyampaikan hal-hal yang benar. Informasi atau berita yang sampai atau diterima harus disaring dan divalidasi. Dengan kata lain, endapkanlah dulu informasi yang kita terima, sampai kita mengetahui kebenarannya.

Jadi dalam kehidupan sehari-hari agar terhindar dari hoaks yang membawa kita pada radikalisme agama, dalam berkomunikasi baik verbal, visual, maupun tulisan, sikap tabayyun harus senantiasa kita utamakan, sebelum mengambil kesimpulan apalagi tindakan.

Kedua, menghidupkan nalar. Bernalar mengarah pada berpikir benar, jernih, lepas dari berbagai kepentingan, prasangka, emosi dan keyakinan seseorang. Dengan bernalar mendidik manusia bersikap obyektif, tegas, dan berani. Dengan nalar yang sehat, kita akan berhati-hati dalam menerima sebuah informasi. Dengan nalar pula kita akan menyaring dan menyebarkan informasi tersebut.

 

Langkah Sederhana

Langkah sederhananya, setiap informasi atau berita yang masuk ditimbang baik-baik, mulai dari asal-usul, kebenaran, manfaat, dan maslahatnya. Jika memang sudah diyakini informasi itu benar, penting, dan bermanfaat, menyebarluaskannya tentu suatu kebaikan. Tetapi, jika tidak, kita harus segera menghapus dan tidak menyebarkannya. Dengan begitu, kita telah turut serta menghentikan penyebaran hoaks.

Kemudian, jika kita pengguna media sosial, maka hindari akun tanpa nama atau tidak jelas namanya (anonim). Akun-akun anonim banyak berserakan di media social. Biasanya dengan akun-akun beginilah, pembuat konten hoaks menyebar luaskan informasinya. Dengan akun itu pula mereka merasa aman dan tidak diketahui orang lain. Ini penting kita ketahui agar kita dan masyarakat selamat dari informasi atau berita hoaks.

Sebaliknya kita perlu merujuk akun-akun yang normal, jelas, bisa ditemui, bisa diambil ilmunya, dan manfaat. Jika membutuhkan informasi penting terkait apapun khususnya keagamaan, agar terhindar dari akun-akun penyebar radikalisme agama, maka kita perlu merujuk pada akun yang bisa kita jamin komitmennta terhadap kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Akun tanpa kebencian, caci maki, dan hoaks inilah yang harus kita jadikan sumber rujukan.

Inilah tantangan besar kita agar lebih cerdas dalam memilih dan memilah informasi yang harus diikuti atau dikonfirmasi (tabayyun) kebenarannya. Agar kita terhindar dari pengaruh radikalisme agama melalui hoaks maka mari bersama-sama menjaga agama dan bangsa ini dengan upaya dan langkah-langkah di atas.

 

Penutup

Radikalisme Agama dan fenomena hoaks di masyarakat ini benar adanya, merupakan sesuatu yang mengancam saat ini dan ke depannya. Meski pada dasarnya gerakan ini menggunakan sistem sel yang kasat mata, tapi dampaknya telah kita rasakan. Namun demikian, kasus penangkapan grup Saracen, penangkapan oknum-oknum Muslim Cyber Army (MCI), dan diketahuinya kelompok bom bunuh diri oleh pihak kepolisian menjadi bukti nyata sekaligus menegaskan bahwa adanya keterkaitan antara radikalisme agama dengan fenomena hoaks.

Untuk itu, masalah ini harus menjadi perhatian serius semua orang dan diharapkan menjadi musuh bersama. Melalui tabayyun atau konfirmasi kebenaran dan menggunakan nalar sehat, kita berupaya menangkal radikalisme agama dan hoaks. Wallahu A’lam Bisshawab

 

Daftar Pustaka

Al Ansori, Ayub. 2018. Jihad Melawan Hoaks. Pikiran Rakyat. Rubrik Opini: 12.

Astuti, Yanti Dwi. 2017. Peperangan Generasi Digital Natives Melawan Digital Hoax Melalui Kompetisi Kreatif. Dalam Jurnal Informasi Vol 47 No. 02.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V.

Kasdi, Abdurahman. 2002. Fundamentalisme Islam Timur Tengah. Dalam Jurnal Tashwirul Afkar. Jakarta: Lakpesdam NU.

Saifuddin, 2011. Radikalisme Islam di Kalangan Mahasiswa. Dalam Jurnal Analisis Vol. XI No. 1.

www.forddictionaries.com. 2018. English Oxpord Dictionaries. Diakses pada 07 Juli 2018.

www.nasional.kompas.com. 2018. Dalam Dua Bulan, Polri Tetapkan 18 Tersangka Kasus Ujaran Kebencian. Diakses pada 07 Juli 2018.

www.tafsirq.com. 2018. Tafsir Quraish Shihab, Surat Al-Hujurat Ayat 6. Diakses pada 07 Juli 2018.

* Makalah lomba karya ilmiah PIONIR I Kopertais Wilayah II Jabar & Banten di Cipasung Tasikmalaya pada 2-4 Juli 2018, dan meraih juara II.

* Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAI Cirebon.

End Notes:

[1] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V.

[2] Mahmud Amin Al-‘Alim, 1993, al-Ushuliyah al-Islamiyah, Qadhaya Fikriyah Li an-nasyr wa at-Tauzi, hlm. 10 (Dikutip oleh Abdurahman Kasdi, 2002, Fundamentalisme Islam Timur Tengah dalam Tashwirul Afkar, Jakarta, Lakpesdam NU).

[3] Mahmud Amin Al-‘Alim, 1993, al-Ushuliyah al-Islamiyah, Qadhaya Fikriyah Li an-nasyr wa at-Tauzi, hal. 20.

[4] Saifuddin, 2011, Radikalisme Islam di Kalangan Mahasiswa, dalam Jurnal Analisis Vol. XI No. 1, hal. 21.

[5] Saifuddin, 2011, Radikalisme Islam di Kalangan Mahasiswa, dalam Jurnal Analisis Vol. XI No. 1, hal. 22

[6] English Oxpord Dictionaries: www.forddictionaries.com (Diakses pada 07 Juli 2018, pukul 10.51).

[7] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Op. Cit.

[8] https://nasional.kompas.com, 2018, Dalam Dua Bulan, Polri Tetapkan 18 Tersangka Kasus Ujaran Kebencian, (Diakses pada 07 Juli 2018, pukul 11.38)

[9] Raphael Cohen-Almagor, 2013, Freedom of Exfression V Social Rsponsibility: Holocaust Denial in Canada, Journal of Mass Media Ethics. Dikutip oleh Yanti Dwi Astuti, 2017, Peperangan Generasi Digital Natives Melawan Digital Hoax Melalui Kompetisi Kreatif, Jurnal Informasi Vol 47 No. 02, Hal. 232.

[10] Tafsir Quraish Shihab, www.tafsirq.com: Surat Al-Hujurat Ayat 6, (Diakses pada 07 Juli 2018, pukul 12.51)

[11] Ayub Al Ansori, 2018, Opini: Jihad Melawan Hoaks, Pikiran Rakyat, Hal. 12.

News Feed