by

HIKMAH BELAJAR DI RUMAH SELAMA PANDEMIK CORONA

Oleh: Siti Nur Amanah, M.Pd.*

BELAJAR adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh manusia yang terjadi sejak lahir. Belajar menurut Hamalik (2007: 45) mengandung pengertian terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku, misalnya pemuasan kebutuhan masyarakat dan pribadi secara lebih lengkap. Para ahli pendidikan mempunyai pandangan yang berbeda dalam mengartikan belajar. Namun perbedaan tersebut masih dalam tahap kewajaran yang justru menjadi khazanah pengetahuan.

Dahar dan Ratna (1996: 21) mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman. Sementara itu, menurut Morris L. Bigge belajar atau “learning is an enduring change in aliving individual that is not haralded by a genetic in heritance” (Belajar adalah perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis) (Darsono, 2001: 3).

Definisi lainnya diungkapkan oleh Slameto (2003: 2), bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan, belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang agar dapat mengubah tingkah laku menjadi lebih baik, melalui pengalaman-pengalaman yang diperolehnya.

Belajar dapat dilakukan di mana saja, tak terkecuali di rumah. Hal tersebut juga dikatakan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan Indonesia Nadiem Makarim. Dalam salah satu stasiun TV, Nadiem mengatakan bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja, tak terkecuali di rumah.

Sejak perpanjangan waktu belajar di rumah akibat pandemik corona, pemerintah  mengadakan program belajar di rumah melalui siaran tv terhitung sejak 13 April 2020 hingga 3 bulan ke depan. Mata pelajaran PAUD, SD, SMP, dan SMA disiarkan pada jam-jam tertentu yaitu pukul 08.00-23.00 WIB. Tanpa kuota atau akses internet para siswa bisa langsung menyimak pelajaran di depan TV. Hal tersebut seolah menjawab keluhan para ibu. Sebelum itu, selama anak belajar di rumah kuota menjadi boros, dan tidak semua daerah dapat terhubung dengan jaringan internet.

Program tersebut tentu saja disambut antusiasme para orang tua, khususnya yang terkendala oleh keterbatasan bidang akademik. Tidak semua orang tua menguasai segala bidang mata pelajaran, sehingga kesulitan mengajari anak-anak mereka di rumah. Selain itu, muncul sejumlah meme di antaranya, “gimana rasanya belajar di rumah? Aku tak sanggup lagi. Mamahku lebih galak daripada ibu guru di sekolah. Bawaannya marah-marah mulu”.

Meme tersebut bisa jadi memang kenyataan yang dirasakan anak ketika diajari atau didampingi belajar oleh ibunya. Mengajar itu bukan perkara mudah, butuh ilmu, keterampilan, keahlian khusus dan profesionalitas tertentu yang belum tentu dimiliki semua ibu. Memberikan penjelasan kepada anak-anak itu tidak gampang, khususnya bagi ibu yang memiliki keterbatasan pengetahuan. Ketika penjelasan si ibu sudah diberikan berulang-ulang, namun tidak juga dipahami anak, bisa saja itu dapat memicu kemarahan si ibu.

Belum selesai masalah mendampingi anak belajar,  menanti pekerjaan rumah lainnya yang harus segera diselesaikan; memasak, bersih-bersih rumah, dan mengerjakan pekerjaan domestik lainnya. Semua pekerjaan itu tentu menguras energi.

Sebenarnya ketika anak belajar di rumah, banyak hikmah yang dapat kita ambil di antaranya yaitu pertama, orang tua menjadi lebih dekat dengan anak. Kedua, orang tua lebih mengetahui karakter, bakat, dan potensi anak. Ketiga, dengan anak belajar di rumah, wawasan orang tua semakin bertambah. Keempat, orang tua belajar kesabaran, dan kelima, orang tua menjadi lebih menghargai jasa para guru. Mari kita bahas detail kelima manfaat ini.

Pertama, orang tua menjadi lebih dekat dengan anak. Sebelumnya, anak lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di rumah bersama orang tuanya, belum lagi bila anak juga mengikuti les tertentu. Hal ini berbeda ketika diberlakukan kebijakan pembelajaran dan bekerja dari rumah secara nasional, anak dan orang tua lebih banyak berada di rumah. Sehingga, orang tua lebih banyak waktu bersama anaknya. Ini tentu membuat orang tua semakin dekat dengan anak. Bahkan, di sela-sela belajar itu, orang tua dan anak bisa bercerita tentang banyak hal.

Kedua, orang tua lebih mengetahui karakter, bakat, dan potensi anak. Dengan orang tua mengajar atau mendampingi anak belajar secara terus-menerus dalam jangka waktu kurang lebih tiga bulan, tentu para orang tua akan lebih mengetahui karakter, bakat dan potensi anak mereka. Orang tua menjadi tahu tipe dan gaya belajar anaknya. Orang tua mengetahu pelajaran yang disukai anaknya, sehingga ia bisa mengarahkan atau membimbingnya sesuai dengan minat dan bakat anaknya. Memang, bisa jadi sebagian dari orang tua mengetahui minat, bakat dan potensi anak. Hanya saja, pengetahuan itu biasanya sekilas dan terbatas dari nilai-nilai yang tertulis di buku rapor.

Ketiga, wawasan orang tua semakin bertambah. Dengan kita mengajari atau mendampingi anak belajar selama di rumah, mau  tidak mau menuntut kita belajar mata pelajaran anak, terlebih sebelum ada program belajar di rumah melalui salah satu stasiun TV. Para orang tua yang tadinya gagap teknologi (gaptek), kini menjadi sedikit lebih melek teknologi, karena tugas dari sekolah harus dikirim lewat WhatsApp. Apalagi bila pembelajaran daring dilakukan melalui Google Hangouts Meet, Zoom, atau aplikasi lainnya, mau tidak mau para orang tua harus belajar kembali, dan ini tentu saja akan menambah wawasan bagi orang tua.

Keempat, orangtua menjadi lebih sabar. Dengan kita mengetahui karakter, potensi atau bakat yang dimiliki anak, serta mengetahui kelemahan anak kita dalam mata pelajaran tertentu (misalnya dalam hal berhitung), kita menjadi bisa lebih sabar mengajarinya berhitung. Kita tidak harus marah, apalagi memaksa anak harus segera menyelesaikan hitung-hitungan tersebut. Sebaliknya, kita akan lebih sabar membimbing dan mengajarinya secara pelan-pelan, tahap demi tahap, sampai anak mengerti apa yang kita ajarkan tersebut.

Kelima, Orang tua lebih menghargai jasa para guru. Setelah orang tua mendampingi anak belajar, ia akan mengerti bahwa mengajar itu tidaklah mudah. Mengajar butuh keterampilan dan keahlian khusus, agar apa yang disampaikan mudah dipahami,  terlebih dengan perbedaan karakter anak. Dengan demikian, para orang tua akhirnya lebih menghargai jasa dan perjuangan para guru yang mengajari anaknya.

Sebelumnya, sempat viral orang tua yang tidak terima anaknya ditegur atau dihukum oleh gurunya. Orang tua tersebut melaporkan gurunya. Bahkan, ada juga orang tua yang sampai menganiaya seorang guru di sekolah dengan alasan yang sama. Yang terbaru, ada orang tua yang memaki-maki seorang guru sebuah pesantren, karena tidak terima anaknya dikeluarkan dari pesantren. Nah, selama kita mendampingi anak belajar di rumah, kita menjadi tahu susahnya mengajari anak. Padahal yang kita ajar baru satu atau dua anak saja. Bisa dibayangkan betapa repotnya guru dengan sekian banyak anak dalam satu kelas. Dengan demikian, kita sebagi orang tua pada akhirnya lebih menghargai dan menghormati jasa-jasa para guru.[]

Penulis adalah dosen STAI Cirebon dan Sahabat Literasi STAIC

News Feed