Staic.ac.id – Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon (STAIC) menyelenggarakan Studium Generale pada Ahad (04/11) bertempat di Aula Islamic Centre Kabupaten Cirebon pukul 09:00 waktu setempat.

Acara yang mengusung tema Kiat Sukses Belajar di PTKIS tersebut diikuti oleh lebih dari 300 peserta, terdiri dari  mahasiswa dan dosen STAIC. Hadir pula ketua Yayasan Islamic Centre Cirebon, Drs. H. Mahmud Rahimi yang sekaligus membuka acara, didampingi ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon, Ahmad Dahlan. Acara ini juga dihadiri sejumlah akademisi IAIN, di antaranya Dr. H. Aan Djaelani, dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Rois Syuriyah PCNU Kota Cirebon, Dr. KH. Syamsudin, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, ketua STAIC menekankan bahwa mahasiswa PTKIS (seperti STAIC) bisa selevel secara akademik dengan PTKIN (semisal IAIN), meski dengan keterbatasan fasilitas, sarana dan prasarana.

Sementara itu, ketua Yayasan Islamic Centre, Drs. H. Mahmud Rahimi dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini (Stadium Generale) sangatlah penting, bisa menjadi semacam pencerahan bagi para mahasiswa, dalam mempersiapkan diri secara akademis, agar sukses dan pintar. Lebih lanjut, Rahimi menjelaskan, bahwa pintar yang dimaksud yaitu memiliki sifat khasy-yah, sebagaimana firman Allah, “Innama yakhyallaha min ‘ibadihil ulamau” (Sesungguhnya yang memiliki khasy-yah kepada Allah hanyalah ulama).

“Selain itu, pintar juga berarti ulul albab, sebagaimana firman Allah, “Wama yatadzakkaru ulul albab). Serta menjadi pribadi yang ahludz dzikri (orang yang eling kepada Allah), “Fas alu ahladz dzikri in kuntum la ta’lamun),” tegas Rahimi.

Hadir sebagai narasumber pada acara tersebut, Dr. H. Mamat Salamet Burhanudin, M.Ag, Kasubdit Pengembangan Akademik Kementerian Agama RI, dan selaku moderator yaitu Dr. Alex Suheryawan (Puket I STAIC).

Mamat Salamet sebenarnya bukan tokoh yang asing bagi STAIC. Karena sebelumnya, pernah menjadi dosen di STAIC yang saat itu masih bernama STIT Cirebon. Demikian sebagaimana diakuinya di hadapan hadirin.

“Saya hadir di sini sekaligus semacam temu kangen dengan almamater, kampus tempat tempat saya mengabdi dulu,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Mamat Salamet menegaskan bahwa sudah saatnya kita selaku pengelola perguruan tinggi melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi lainnya membuat semacam peradaban.

“Di bawah naungan Kementerian Agama RI, kita memiliki sekitar 776 PT. Yang negeri hanya 50-an. Sementara sisanya yang berjumlah sekitar 720 adalah swasta. Artinya, swasta memiliki peran dan potensi yang sangat segnifikan dalam menentukan kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan ini, kita bisa membangun peradaban,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mamat menyebutkan bahwa PTI di bawah naungan Kementrian Agama, baik Negeri maupun swasta, memiliki tiga misi utama, yaitu keislaman, keintelektualan dan kebangsaan.

“Yang dimaksud dengan misi yang pertama, mengembangkan nilai keislaman, artinya, perguruan tinggi agama islam sudah seharusnya mengembangkan dan mengutamakan kajian-kajian keislaman,” jelasnya.

“Bahkan, bila suatu PTKI hendak membuka jurusan umum, seharusnya ditujukan untuk memperkuat kajian-kajian keislaman. Jangan sampai sebaliknya, bila jurusan umum dibuka, kajian, misi keislaman (kajian Islam) menjadi redup, bahkan tenggelam oleh kajian keilmuan umum,” lanjutnya.

“Sedangkan misi yang kedua, yaitu mengembangkan bidang keintelektualan, maksudnya, PT bukan hanya mengembangkan bidang dakwah, sebagai produsen para muballigh. Akan tetapi, juga membangun dan mengembangkan Islam sebagian sebuah ilmu pengetahuan, sebagai sebuah kajian dan penelitian,” ujar Mamat.

Dalam kesempatan tersebut, Mamat mengajak kepada Civitas Akademika STAIC agar mengokohkan program studi dalam segi bangunan epistemologinya, di Prodi Ekonomi Syariah misalnya, bukan syariah dalam label dan bungkusnya saja, sementara isinya masih berpijak pada ekonomi kapitalistik.

“Ekonomi syariah bertolak pada prinsip-prinsip Islam, yaitu keadilan, kesejahteraan dan kejujuran,” tegasnya.

Selain itu, menurutnya, kampus tidak seharusnya hanya melayani pembelajaran di kelas. Akan tetapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, dengan melakukan riset dan proyek-proyek penulisan karya ilmiah dan penelitian.

“Kelebihan yang dimiliki para akademisi kita (dosen, guru dan kiai) kita di Indonesia, selain mengajar di lembaga pendidikan formal, mereka juga berperan aktif mengabdi di masyarakat, berdakwah, menjadi khatib, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

“Kini, para akademisi harus beralih, mulai meminimalisir kegiatan “dakwah” di luar kampus. Mereka harus mulai menuliskan pengalaman dan hasil kajiannya, dengan mempublikasikan karya tulis dalam bentuk artikel yang dimuat di e-journal, baik level nasional bahkan internasional (penelitian ilmiah). Sehingga bisa dinikmati dan dikonsumsi oleh seluruh dunia. Jangan sampai, jurnal ditulis sendiri, dicetak sendiri, dibaca sendiri, pada akhirnya lapuk sendiri. Sudah saatnya, Indonesia menjadi destinasi pendidikan, sebagai rujukan dunia. Karena itu, penting mengelola jurnal yang bermutu, sehingga kita bisa menjadi rujukan,” lanjutnya.

“Yang ketiga yaitu mengembangkan nilai-nilai kebangsaan. Maksudnya, perguruan tinggi harus dibangun dengan basis karakter kebangsaan, yaitu untuk menjaga dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan sampai, PTKI malah menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ideologi yang tidak sejalan dengan nasionalisme, seperti radikalisme, kekerasan, terorisme dan gerakan trans-nasional yang mengasong paham khilafah,” tegasnya.

“Hal ini, sebab konsep Islam dan nasionalisme tidak perlu dipertentangkan lagi. Masalah ini sudah selesai. Kita dipersatukan dalam bingkai NKRI,” ungkapnya.

Kepada para mahasiswa, Mamat Salamet menyampaikan beberapa pesan, di antaranya mahasiswa tidak seharusnya hanya mengimitasi guru. Menurutnya, mahasiswa harus menjadi seorang intelektual. Lebih lanjut, Mamat menyatakan bahwa seorang intelektual memiliki cara berpikir yang berbeda dengan orang awam.

“Seorang intelektual itu harus memiliki cara berpikir rasional, kritis, filosofis dan sistematis,” ungkapnya.

“Yang dimaksud dengan berpikir rasional yaitu berpikir berdasarkan data dan informasi yang valid dan bisa diverifikasi. Tidak hanya berdasarkan mitos, fiktif, dan apalagi hoaks,” lebih lanjut ia menjelaskan.

“Sedangkan yang dimaksud dengan kritis, seorang mahasiswa tidak hanya menerima sebuah ajaran atau informasi sekedar secara dogmatik dan doktrin semata,” lanjutnya.

“Selanjutnya, seorang mahasiswa harus berlatih berpikir secara filosofis. Tidak hanya terpaku dan sibuk pada persoalan formaliasi simbol-simbol, kulit luarnya saja. Akan tetapi, seorang mahasiswa harus terlibat dalam pengembangan ide-ide kebangsaan, nasionalisme, dan lain sebagainya,” terangnya.

“Dan selanjutnya, sistematis. Seorang mahasiswa seharusnya bisa berpikir secara terstruktur dan runut, tidak berantakan dalam berbicara, saat mengungkapkan ide-idenya. Ia tidak mudah menyalahkan orang lain, dan menganggap dirinya paling benar, memandang sesuatu secara hitam-putih, selamat-sesat, surga-neraka, dan seterusnya.” lanjutnya menutup materi pada siang itu.[mhr]

News Feed