by

Filosofi Ibadah Haji dan Pesan Perbaikan Sosial

Filosofi Ritual Haji dan Pesan Perbaikan Sosial

Oleh: Wahyudi*

STAICMusim haji tahun 2018 telah tiba. Kuota jamaah haji Indonesia tahun ini kembali ke angka normal 221 ribu orang. Haji merupakan rukun ke lima dalam ajaran ibadah Islam. Seorang muslim menunaikan panggilan Tuhan untuk beribadah haji jika telah memiliki cukup bekal, baik itu bekal harta maupun bekal fisik tubuh. Menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekah sana adalah impian dan dambaan setiap insan yang beriman.

Dalam catatan sejarah peradaban manusia, ibadah haji sebagai ajaran ibadah yang merupakan prosesi ritual akbar yang diikuti oleh jutaan umat muslim dari berbagai bangsa dan negara dunia dalam kurun waktu yang sama dan di tempat yang sama. Saking besarnya, bisa jadi ibadah haji ini merupakan prosesi ibadah terbesar di dunia yang mungkin tidak dimiliki agama dunia lainnya. Menurut data resmi pemerintah Kerajaan Arab Saudi, jumlah jamaah haji tahun ini mencapai 2,1 juta orang.

Umat Islam di Indonesia untuk bisa berangkat ibadah haji harus terlebih dahulu melalui persiapan yang panjang hingga bertahun-tahun lamanya. Sebagai contoh, masa pemberangkatan haji di Jawa Barat bahkan sampai memakan waktu 10 tahun. Indonesia adalah satu negara yang mendapat kuota jamaah haji terbanyak.  Data Kementerian Agama (Kemenag) RI menyebutkan bahwa saat ini daftar tunggu Calon Jamaah Haji (CJH) di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa mencapai 20-25 tahun. Daftar tunggu CJH terpanjang terjadi di Sulawesi yang mencapai 30 tahun. Panjangnya daftar tunggu jamaah haji di Indonesia adalah indikator meningkatnya kesadaran beribadah kita. Telah banyak masyarakat Islam Indonesia yang berkeinginan menunaikan ibadah haji.

Sebenarnya bisa saja bagi orang yang punya segalanya untuk menyuap penyelenggara haji agar masa keberangkatannya tidak menunggu lama, hanya hitungan tahun saja. Tetapi sejatinya orang yang berniat curang ini harus sadar bahwa tujuan ke tanah suci adalah untuk beribadah. Sehingga, tindakan menyuap adalah bentuk penodaan terhadap rangkaian suci ibadah haji. Inilah yang akan menjadi penyebab banyak di antara kita yang berhaji tetapi tidak memiliki dampak signifikan bagi perubahan kehidupan dirinya. Karena bisa jadi penyebabnya adalah ia berbuat curang selama pemberangkatan ibadah haji, seperti biayanya diperoleh dari korupsi, menipu, menyuap dan sebagainya. Hal-hal demikian yang harus dihindari oleh siapapun yang berniat berhaji, bahwa niatan suci harus linier dengan perilakunya. Sehingga ibadah hajinya memiliki dampak selain individual juga sosial. Oleh sebab itu perlu dipahami oleh semua jamaah haji bahwa di dalam ibadah haji terdapat makna dimensi sosial dan kemanusiaan, keberhasilan ibadah haji juga diukur dengan signifikansi perubahan sosial yang terjadi.

Kita telah menyaksikan para jamaah calon haji sudah sejak beberapa waktu lalu diberangkatkan dari sejumlah daerah di Indonesia. Dalam periode pemberangkatan haji dari tahun ke tahun selalu ada kasus yang membuat heboh tanah air, sebagai contoh tahun lalu yakni kasus penipuan agen umroh dan haji First Travel yang telah ditetapkan sebagai tersangka karena melakukan penipuan terhadap jamaahnya, sehingga puluhan ribu jamaahnya tidak berangkat ke tanah suci. Kasus ini menjadi pembelajaran bagi umat Islam Indonesia agar lebih cermat dan berhati-hati dalam merealisasikan niatannya ke tanah suci.

Kuantitas jamaah haji terbesar di dunia seharusnya mampu memberikan dampak perubahan sosial yang positif bagi Negeri ini. Kita mendoakan dan berharap mereka para jamaah haji dapat menjadi seorang yang lebih baik perangai dan kepribadiannya, sehingga sepulangnya dari tanah suci menjadi sosok-sosok yang bisa memecahkan persoalan bangsa yang pelik. Jumlah jamaah haji Indonesia lebih dari 221 ribu di tahun ini diharapkan bisa menjadi solusi atas segala persoalan bangsa Indonesia, terutama persoalan korupsi, penyakit hati, malas, dan persoalan mental lainnya.

Dengan jumlah haji Indonesia yang besar ini setidaknya bisa menjadi pendukung keberhasilan gerakan “revolusi mental” yang dicanangkan presiden Jokowi. Namun sayangnya, sekalipun tampuk kekuasaan negeri ini dipegang oleh para haji namun kenyataannya justru mereka para haji ini belum mampu memberikan teladan dan membawa bangsa Indonesia dari jerat kemiskinan dan kebodohan. Justru negeri pimpinan para haji ini seolah tak bisa lepas dari cerita kezaliman, ketidakadilan sosial dan ekonomi, korupsi dan persoalan lainnya.

Idealnya, peningkatan kualitas ritual keagamaan sebuah bangsa berbanding lurus dengan perbaikan kualitas kehidupan bangsa itu. Tetapi kenyataan menjadi bukti tak terbantah, justru di negeri ini prilaku menyimpang masih menjadi tontonan yang tak pernah habisnya, misalnya prilaku korupsi yang banyak melibatkan pejabat publik. Bahwa ibadah haji untuk tujuan-tujuan individual saja sesungguhnya tak memiliki arti dan makna yang sebenarnya, sebab ibadah haji yang notabene proses perbaikan hubungan manusia dengan Tuhannya (hablun minallah) harus pula memiliki komitmen dan tanggung jawab moral nyata memberikan keteladan perbuatan sosial yang baik. Sehingga ibadah ritual keagamaan ini juga memiliki dimensi sosial yang luas.

Meskipun demikian kenyataanya, kita terus mendoakan dengan penuh keharuan mereka yang berkesempatan menunaikan panggilan Tuhan ini dapat selamat dan berjalan lancar hingga ke tanah air, serta tak ada lagi petaka haji yang pada beberapa tahun lalu terjadi menimpah para jamaah haji dalam tragedi terowongan Mina dan jatuhnya crane Masjidil Haram.

Tragedi petaka haji tiga tahun lalu sejatinya menjadi renungan dan peringatan kepada umat Nabi Muhammad, setidaknya mau belajar kepada sejarah, tidak boleh jatuh pada lubang yang sama, dan “pelajarilah sejarahmu, untuk hari esokmu”. Peristiwa buruk tiga tahun lalu sejatinya menjadi tugas umat Islam dunia untuk membenahi berbagai sisinya.

Oleh sebab itu agar tragedi petaka haji tak terulang lagi di tahun ini dan tahun-tahun ke depan diperlukan pengelolaan haji yang lebih baik. Di sinilah demi keamanan dan keselamatan seharusnya diperlukan manajemen pengelolaan yang baik dengan standar dan tenaga profesional. Agenda mega besar ini tidak mungkin hanya dikelola oleh satu Negara, sebab prosesi haji melibatkan jamaah dari berbagai negara dunia. []

*Penulis adalah Peminat Masalah Sosial dan Pegiat Lembaga Pers & Literasi Mahasiswa STAIC.

News Feed