by

Embrio Ushul Fiqih di Kalangan Murid Ibnu Mas’ud

Embrio Ushul Fiqih di Kalangan Murid Ibnu Mas’ud

Oleh: Masyhari, Lc, M.H.I

 

Alquran diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai petunjuk jalan hidup (guide of life) bagi umat manusia di dunia untuk menuju kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Agar memahami isi kandungan ajaran Alquran dibutuhkan adanya pemahaman yang benar terhadap pesan-pesan yang disampaikan-Nya.

Pada periode risalah, penafsir Alquran satu-satunya adalah Rasulullah sallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Bilamana para sahabat mendapati kesulitan dalam memahami pesan-pesan ilahiyyah, mereka bisa merujuk secara langsung kepada beliau, baik melalui perbuatan beliau, sabda-sabda beliau ataupun ketetapan beliau (asSunnah). Karena itu, para ulama Ushul Fikih menempatkan Al-Qu’an sebagai sumber hukum Islam yang paling utama, dan setelah itu as-Sunnah.

Ketika para sahabat berada jauh dari Rasulullah saw, sementara mereka mendapati perkara hukum yang harus segera mendapatkan jawaban, maka Rasulullah melegalkan mereka untuk ijtihad menggunakan nalar logika (ra’yu). Hal semacam ini kerap kali terjadi, sebut saja kisah sahabat Nabi yang diutus ke Bani Quraidhah. Contoh lainnya yaitu, kisah sahabat Umar bin Khattab dan Mua’dz yang sedang dalam kondisi junub, sedangkan shubuh sudah masuk, namun belum diketemukan air untuk mandi. Begitu juga kisah pengangkatan sahabat Muadz sebagai gubernur Yaman. Dan, penggunaan ijtihad di kalangan para sahabat semakin luas setelah Rasululah SAW wafat. Karena banyak permasalahan baru yang belum tercover secara tekstual oleh Al-Quran dan Al-Hadits. Kemungkinan lain, bahwa suatu masalah sudah dijelaskan oleh Al-Hadits, namun seorang sahabat belum mengetahui teks hadits tersebut.

Madrasah Ahl alHadis dan Ahl ar-Ra’yi

Secara umum, pemikiran sahabat dalam memahami pesan-pesan teks Al-Quran dan as-Sunnah, terbagi dalam dua corak (manhaj) pendekatan terhadap hukum, yaitu pendekatan naqli (nash syariat) dan pendekatan aqli (rasio). Corak yang pertama lebih mengutamakan pemahaman literal teks Al-Quran dan Al-Hadits. Sedangkan corak yang kedua, mereka lebih mengutamakan pemahaman teks Al-Quran dan Al-Hadits secara kontekstual.

Karakteristik pola pertama, para sahabat melakukan penafsiran nash dengan mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan tradisi Nabi (Hadits), namun belum memprediksi hal-hal di luar ketentuan teks nash. Pola semacam ini ditempuh oleh sahabat Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Aisyah, Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar dan Ubay bin Ka’ab. Pada perkembangan tasyri’ Islam periode selanjutnya, pola yang pertama ini kerap disebut dengan ahlu AlHadits, yang melahirkan mazhab fikih yang bersifat tradisional yang lebih banyak merujuk pada nash-nash secara literal dalam melakukan ijtihadnya. Madrasah ini berpusat di kawasan Hijaz, yang terdapat dua pusat kajian keilmuan, yaitu di Makkah dan Madinah. Namun kegiatan kajian keilmuan lebih banyak terjadi di Madinah.

Sedangkan pola yang kedua, pendekatannya tidak hanya terbatas pada pemahaman teks-teks nash dalam berijtihad, namun sudah menggunakan nalar di luar nash sebagai upaya kontekstualisasi. Pola semacam ini digunakan oleh Umar bin Al-Khattab, Abdullah bin Mas’ud, Mu’adz bin Jabal dan Salman Al-Farisi. Pola semacam ini, pada periode selanjutnya mewariskan mazhab fikih yang lebih menekankan pada unsur rasional, yang kerap disebut dengan ahlu al-ra’yi. Porsi penggunaan ra’yu jauh lebih dominan dibanding pada pola pertama. Interpretasi nash sudah mulai dilakukan dengan pertimbangan kondisi sosial waktu itu. Madrasah ini terpusat di daerah Irak, yang memiliki dua pusat kajian, yaitu di Kufah dan Basrah. Akan tetapi, kegiatan kajian keilmuan lebih banyak terjadi di Kufah.[1]

Rasio (ra’yu) yang dimaksud di sini adalah rasio yang  tidak berlandaskan hawa nafsu, serta tidak bertentangan dengan prinsip dasar syariah. Kendatipun mereka disebut dengan ahl ra’yi, bukan berarti mereka mengabaikan hadits, sebagaimana Ahlu Al-Hadits tidak mengabaikan sama sekali penalaran rasio. Penamaan ini sekedar untuk membedakan keduanya dan memudahkan pemetaan, dimana mereka memang memiliki perbedaan yang cukup mendasar kaitannya dalam pendekatan dan pemahaman terhadap nash, serta penyelesaiaan kasus-kasus hukum yang berkembang dalam masyarakat.

Diantara mufti Basrah saat itu adalah ‘Amr bin Salimah Al-Jarmi dari kalangan sahabat, Abu Maryam Al-Hanafi, Ka’ab bin Sûd, dan Hasan Al-Bashri.[2] Ketiga terakhir ini dari kalangan tabi’in. Sedangkan di Kufah antara lain Ibnu Mas’ud dari kalangan sahabat, Alqamah, Al-Aswad, Amr bin Syarahbil, ‘Abiidah, Syuraih, Sulaiman Al-Bahili, dan lain sebagainya.[3] Sebagian dari para mufti Kufah adalah murid Ibnu Mas’ûd, yang akan menjadi fokus kajian pada makalah ini, dengan beberapa alasan, diantaranya bahwa kajian keilmuan lebih didominasi oleh madrasah Kufah. Madrasah ahlu ra’yi di Kufah ini masih bertahan hingga periode madzahib fiqhiyyah dan tadwid al-funun (kodifikasi ilmu), memiliki murid-murid penerus. Madrasah ini pada periode kemudian melahirkan sebuah mazhab fikih Hanafiyah.

Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah

Madarasah Kufah ini dikomandani oleh Abdullah Ibnu Mas’ud (w. 23 H/ 653 M). Beliau merupakan sahabat Rasulullah SAW yang pertama kali masuk Islam. Beliau mengetahui banyak rahasia Rasulullah SAW, sebab sebagian besar waktunya dihabiskannya untuk menemani Rasulullah, di rumah, perjalanan ataupun di medan peperangan. Beliau adalah gudang ilmu, begitulah pujian Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu kepadanya. Ketika Khalifah Umar bin Al-Khattha

News Feed