by

Dari Libur Telah Tiba Menuju Aku Ingin Terus “Sekolah”

Dari Libur Telah Tiba Menuju Aku Ingin Terus “Sekolah”

Oleh: Masyhari
(Ketua Prodi PAI STAI Cirebon)

 

Libur telah tiba 2x// Hore.. hore.. hore// Simpanlah tas dan bukumu// Lupakan keluh kesahmu// Libur telah tiba 2x// Hatiku gembira!

Mungkin, lagu tersebut tak asing lagi bagi kita. Itu merupakan cuplikan lagu ciptaan AT Mahmud yang dipopulerkan oleh Tasya dan Sherina. Lagu ini juga menjadi salah satu soundtrack sebuah film drama musikal keluarga bertajuk “Ambilkan Bulan Bu”. Diceritakan dalam film tersebut sebuah keluarga kecil yang tinggal di Ibu Kota Jakarta. Dengan tokoh utama seorang anak wanita kecil bernama Amelia. Ia ditinggal mati oleh ayahnya. Sementara sang ibunda, seorang wanita karir yang selalu sibuk dengan kerja kantornya. Sang anak tak merasa bahagia hidup dengan gemerlap kota. Suatu ketika, di dalam sebuah tatap muka di kelasnya, sekolah Internasional, dengan bahasa Inggris sebagai pengantarnya. Sang anak ditanya oleh gurunya, hendak kemana ia kan habiskan masa liburannya. Saat kawan-kawannya menjawab ke Roma, Australia, Singapore, Bali, dsb, ia lebih memilih berlibur ke kampung, desa dengan segala kepolosannya. Itulah mimpinya. Jawaban itu pun mengundang tawa dari kawan-kawannya. Amelia tak peduli dengan cibiran itu.

Dan, ternyata ibunda Amelia sudah punya rencana mengajaknya berlibur ke Bali. Setali tiga uang dengan kawan-kawan Amelia, lebih sudah berlibur ke tempat wisata di luar negeri. Liburan ala anak kota dengan harta melimpah ruah. Alih-alih merasa terhibur, di sana ia hanya jadi ‘korban’ egoisme sang ibu. Ternyata, ia hanya untuk menemani sang ibu yang sedang dinas selama beberapa hari. Sang anak pun kecewa, sebab ia juga sudah punya rencana akan berlibur ke kampung.

Dalam film tersebut, lagu itu mengesankan bahwa liburan menjadi sebuah momen kemerdekaan dari belenggu hedonisme kota dan sebuah ungkapan kerinduan akan kehidupan desa yang sejuk, tenang dan alami bak hutan lindung dengan sungai mengalir di dalamnya. Sawah yang menghijau dan gembala kambing yang asyik menikmati rumput dengan bebas di kebun petani. Berkejaran dengan kawan, naik kerbau dan angon bebek di sawah. Bila demikian, lagu itu masih dalam batas kewajaran dan hal yang lumrah.

Selain itu, lagu tersebut, terlepas ataupun terkait dengan film itu, juga menyuarakan hati anak-anak manusia yang ‘tersiksa’ dengan sistem pendidikan sekolah formal yang penuh dengan aktifitas yang menjenuhkan, materi, hafalan, PR dan berujung UAN, kelulusan diukur dengan kecerdasan intelektuan (kognitif) saja. Belajar sebuah keterpaksaan, ibarat memakan biji mahoni, teramat pahit rasanya, menelan biji kedondong yang merusak tenggorokan, atau penjara yang membelenggu kebebasan. Belajar dengan objek mati, tanpa ruh, tanpa kehidupan, bukan laboratorium alam yang maha luas tak terbatas.

Sehingga, bila lagu itu dinyanyikan anak-anak murid Anda dan kita semua, saat libur jelang datang. Dengan penuh tawa-riang. //Libur telah tiba//Hore hore hore.

Maka semestinya kita bertanya-tanya dan renungkan. Apa makna di baliknya? Apakah yang telah dan sedang terjadi? Apa yang salah dengan sekolah saya? Apakah selama ini sekolah dianggap sebuah penjara, dan belajar adalah sebuah penyiksaan.

 

Libur [Pun] Kuingin Tetap “Sekolah”

Teringat, sekitar dua tahun yang lalu, saya diberi kesempatan untuk mengajar [tepatnya: berguru, menimba pengalaman] di sebuah sekolah dasar Islam di Jakarta Selatan. Meskipun dengan keterbatasan sarana dan prasarana, dan sempitnya lahan, sekolah itu terasa rumah, bahkan kebun asri yang menyejukkan dan dirindukan murid-muridnya. Dan guru-gurunya seakan lebih dekat daripada ortu sendiri. Mungkin ini potret Sekolahnya Manusia ala Munif Chatib. Apa ini berlebihan? Setidaknya itu sebuah kesan pribadi.

Sekolah tersebut masuk hingga pukul 14.00 siang. Namun biasanya ada saja anak murid yang baru dijemput pukul 16.00 sore. Bahkan, Sabtu hari libur pun, anak masih antusias pergi ke sekolahan untuk ikut kegiatan ekstrakurikuler olah raga dan seni dengan penuh keriangan. Di sekolah itu,  saya mengampu bidang pengajian al-Qur’an. Dalam beberapa kesempatan, saya dan guru-guru lain diupgrade pengetahuan dan pengalaman dalam sebuah pelatihan sehari dua hari oleh kepala sekolah atau mendatangkan trainer dari luar, materi yang disampaikan terkait dengan manajemen kelas, komunikasi efektif, Multiple Intellegenceseffective learning, dsb.

Semestinya, memang, rumahlah yang menjadi kelas bagi anak, sekolahnya adalah alam semesta dengan segala isinya, dan gurunya adalah orang tua. Namun, ternyata realitas berbicara lain. Tak sedikit orang tua yang tak punya bekal yang cukup untuk mendidik anaknya. Maklum, sebelum menikah tidak disyaratkan lulus sekolah parenting. Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Hampir tidak ada manusia dengan mahir dan menguasai segala bidang. Sehingga, sekolah yang merupakan sebuah pelembagaan pendidikan sejatinya adalah jawaban, meskipun bukan solusi satu-satunya.  Di perkotaan,  mayoritas orang tua dengan aktifitas padat, ditambah kemacetan lalu lintas luar biasa. Berangkat kerja pukul 05.00 pagi, saat anak masih dalam lelap tidurnya, dan pulang pukul 17.00 sore, bahkan 19.00 malam, saat anak sudah jelang tidurnya. Hari Minggu saja, itupun kalau tak ada rapat dadakan di kantor. Apalagi bila ortunya jadi supir angkutan, bus malam, apalagi yang kerja di luar kota atau bahkan luar negeri, menjadi TKI. Sehingga, menjamurnya sistem sekolah fullday di kota-kota besar diharapkan menjadi jawaban, bisa jadi sebuah solusi, bukan malah sebaliknya. Guru sekolah menjadi ‘pengganti’ ortu pun sebuah keharusan. Dalam bahasa Munif Chatib, gurunya manusia. Sehingga sekolah pun menjadi sekolahnya manusia. Bukan sebaliknya, guru hanya sebagai raja, perintah sebatas selera dia, dan sekolah menjadi penjara yang membelenggu jiwa dan mematikan kreatifitas siswa. Hanya mengikuti SOP yang ada, prosedur dan aturan pemerintah, tak peduli baik buruknya. Sekolah berjalan apa adanya, dan guru merasa cukup dengan bermodalkan ijazah semata, tak mau upgrade pengetahuan dengan membaca, mengikuti pelatihan, studi banding dan penelitian.[]

News Feed