by

Pendidikan dan Harapan Kita

Pendidikan dan Harapan Kita: Sebuah Catatan Jelang Tahun Akademik Baru

Staic.ac.id – Tahun ajaran baru akan segera dimulai pertengahan Juli ini, jutaan orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah formal terutama menggantungkan harapan atas kehidupan anaknya. Tujuan memasukan anak ke sekolah tentu sangat beragam dan bermacam-macam. Harapannya anak-anak berkembang dengan baik sebagai manusia, terbentuk jati dirinya, karakter kepribadiannya, dewasa, mandiri dan memperoleh skill dasar. Semua itu untuk menyiapkan anak agar bisa menghadapi realita hidup secara cakap, bertanggung jawab, kreatif, mandiri dan tangguh.

Menurut para ahli, Indonesia memiliki bonus demografi yang besar setidaknya sejak tahun 2012-an. Momentum demografi ini bisa memberi peluang bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional. Namun bisa jadi sebaliknya menjadi bom waktu yang bisa saja akan meledak kapan saja.

Pendidikan menjadi kunci penting bagi pengelolaan bonus demografi ini, mengelola sumber daya manusia yang tepat dan hasil guna sehingga bonus demografi memberi potensi besar bagi kemajuan bangsa. Bonus demografi ini artinya Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berlimpah.
Bahwa yang membuat kita bingung adalah mengapa dengan modal yang betapa besar itu Indonesia tak kunjung sejahtera, makmur dan adil? Di sinilah sepertinya ada persoalan yang mendasar dan mengakar yang mengikat kita pada keterpurukan. Menjadi penyebab yang membuat kita sulit untuk maju. Pada tahapan inilah setiap kita akan memiliki pendapat yang berbeda satu sama lain. Tanpa mengabaikan persoalan yang lain, di sinilah kita masih meyakini bahwa pendidikan adalah masalah besar dan nomor satu di Indonesia yang sampai hari ini masih relevan kita perbincangkan.

Seandainya saja dunia pendidikan kita mampu mencetak manusia yang berkualitas tinggi, maka bisa kita bayangkan, kebingungan mengapa Indonesia sulit untuk maju bisa terjawab dengan segera; yakni kualitas manusia menjadi kuncinya. Manusia seperti apa dan pendidikan yang bagaimana yang disyaratkan?

Pendidikan sejatinya memberdayakan seseorang menjadi dewasa, mengerti jati dirinya, mandiri, memiliki karakter dan kreatif. Orientasi pendidikan tidak semata memberi kecerdasan kognitif dan mengejar target nilai, tetapi hal yang tidak boleh terabaikan adalah melatih kepedulian sosial, karakter-sikap, kepemimpinan dan kreatif. Di sinilah pentingnya kualitas karakter budaya, berupa sikap hidup (attitude) yang penuh dengan nilai-nilai positif. Sikap hidup ini berlatar belakang kebudayaan. Dapat kita nilai bahwa kebudayaan pada akhirnya cermin kualitas individu dan sosial suatu Negara. Penentu kualitas kebudayaan ditentukan oleh kualitas proses pendidikan selama bertahun-tahun. Dalam tema ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah penentu keberhasilan suatu negara, maju atau tidaknya.

Pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang berorientasi pada pembentukan sikap hidup. Sikap hidup ini berupa nilai dan prinsip yang menekankan pada budi pekerti, disiplin, menghargai waktu, integritas, rasa tanggung jawab, hormat aturan, bekerja keras, menepati janji dan ucapan, berusaha untuk hidup lebih baik dan nilai-nilai utama lainnya. Jadi, nilai-nilai ini yang harus menjadi ukuran keberhasilan pendidikan suatu bangsa. Bukan semata-mata melahirkan ribuan manusia bergelar insinyur, psikolog, dokter dan lainnya, tetapi lebih pada orientasi pembentukan karakter sikap hidup (daya psiko-kultural).

Pendidikan berorientasi karakter inilah yang harus diberikan perhatian dan porsi besar dalam proses pendidikan. Sebab negara maju kebanyakan masyarakatnya memiliki ciri-ciri sikap hidup yang lebih baik ketimbang negara berkembang dan negara terbelakang. Kebanyakan masyarakat negara berkembang atau negara terbelakang amat sedikit penduduknya yang memiliki sikap hidup baik (nilai positif).
Pendapat inilah yang seharusnya menjadi dasar sistem pendidikan, sebuah sistem pendidikan yang memungkinkan warga-negaranya memiliki sikap hidup bernilai positif. Pelajaran sains, seperti matematika atau semacam bahasa Indonesia dan ilmu pengetahuan alam memang amat penting dan diperlukan untuk mengasah logika, nalar dan daya kritis sains seseorang. Namun tetap, nilai-nilai budi pekerti, akhlak, disiplin, kemauan bekerja keras, kemauan menjadi lebih baik, serta memahami hak dan kewajibannya penulis yakini hal-hal ini amat jauh lebih penting. Jika diyakini dan dianggap penting maka sejatinya pelajaran sikap hidup (karakter) harus diakomodasi dengan porsi memadai dalam berbagai tingkat pendidikan.

Pendidikan yang berorientasi pada pembentukan dan pengembangan karakter (sikap hidup) ini tak dinafikan bahwa penentunya ada di keluarga dan institusi pendidikan formal (sekolah). Isu pendidikan terutama di sekolah maka bisa kita bayangkan di masyarakat modern kini anak-anak menghabiskan 5-8 jam per hari, maka sekolah dan pendidik (guru/ dosen) memiliki peranan yang amat besar dalam pembentukan pendidikan karakter tersebut. Proses pendidikan karakter ini sulit dibebankan pada pihak orang tua modern, tidak cukup hanya orang tua yang diharapkan mengajarkannya. Apalagi di zaman sekarang seorang ayah dan ibu sama-sama sibuk mencari nafkah untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup yang kian hari semakin mahal.

Kebaradaan guru sebagai orang yang memegang peranan besar di sekolah harus dipandang sebagai profesi yang luar biasa pentingnya, sehingga guru haruslah sosok manusia yang memiliki moral teladan, integritas karakter, intelektualitas dan memenuhi syarat kemampuan mendidik.()

* Ditulis oleh Wahyudi, Mahasiswa Prodi PAI STAIC & Peminat Masalah Sosial

News Feed